Sumsel Gelar Salat Istisqa di Griya Agung Palembang, Gubernur Sebut 54 Kali OMC Belum Cukup Atasi Karhutla
PALEMBANG — Datangnya musim kemarau yang memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan kian memprihatinkan. Setelah satuan tugas gabungan berulang kali melakukan pemadaman dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Pemprov Sumsel mengambil langkah terakhir yang tak kalah penting untuk ukuran sebuah ikhtiar: memanjatkan doa bersama lewat Salat Istisqa.
Salat sunnah meminta hujan ini digelar di Halaman Griya Agung Palembang, Kamis (3/9/2026). Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru hadir dan memimpin jalannya ibadah yang diikuti oleh para pejabat daerah hingga warga sekitar.
"Kekuatan kita sangat terbatas, kita hanya hamba yang berpasrah pada Yang Maha Kuasa. Ini tahapan ujian bagi kita, sementara usaha terbaik sudah kita lakukan," ujar Herman Deru di sela kegiatan.
54 Kali OMC Belum Cukup, Titik Api Masih Bermunculan
Pernyataan Herman Deru itu bukan tanpa dasar. Di hadapan jajaran satgas, ia membeberkan bahwa upaya teknis yang dilakukan pemprov bersama pihak terkait sebenarnya sudah berjalan maksimal. Salah satunya adalah Operasi Modifikasi Cuaca yang bertujuan menciptakan hujan buatan untuk memadamkan lahan gambut yang terbakar.
"Saya berterima kasih kepada semua satgas yang telah berbuat banyak. Ini bentuk usaha kita, bahkan sudah 54 kali kita melakukan OMC," tuturnya.
Sayangnya, hujan yang dihasilkan dari penyemaian awan tersebut belum turun merata di seluruh wilayah. Sejumlah titik api di kabupaten dan kota masih menyala, sementara kabut asap mulai menyelimuti beberapa kawasan.
Dampak Karhutla: Dari Keterbatasan Air Sampai Kualitas Udara
Kondisi ini memperparah dampak yang dirasakan masyarakat. Herman Deru menjelaskan, tidak hanya soal kebakaran lahan, kemarau panjang juga menyebabkan keterbatasan sumber air bersih di sejumlah daerah. Paparan kabut asap akibat Karhutla pun mulai mengganggu kualitas udara dan kesehatan warga.
Menghadapi situasi itu, Pemprov Sumsel memastikan penanganan karhutla tetap berjalan melalui koordinasi satuan tugas gabungan. Upaya tersebut meliputi pemadaman titik api, pencegahan penyebaran kebakaran, serta pemantauan ketat di wilayah rawan.
Apa yang Diharapkan dari Salat Istisqa?
Salat Istisqa sendiri merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang dilakukan berjamaah untuk memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun. Ritual ini dilakukan bukan semata-mata menyerah pada kondisi, melainkan melengkapi ikhtiar manusia yang dinilai memiliki keterbatasan.
Herman Deru berharap hujan bisa segera turun secara merata di seluruh wilayah Sumatera Selatan. Dengan turunnya hujan, kualitas udara dipastikan membaik, ketersediaan air meningkat, dan upaya penanganan Karhutla oleh satgas di lapangan akan berlangung lebih efektif.
Melalui momentum ini, ia juga ingin memperkuat kepedulian serta kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ujian kemarau yang berkepanjangan. Ia menegaskan, semuanya harus tetap berikhtiar—di darat dan di langit.