Bayi Kembar Lahir di Usia 27 Minggu, Kisah Perjuangan 135 Hari di NICU

Bayi kembar Annabelle dan Amira lahir prematur ekstrem pada usia kehamilan 27 minggu dengan berat 725 gram dan 925 gram.
Penulis: Rendra
Sabtu, 24 Oktober 2026 | 09:00:31 WIB

KILASKINI.COM — Frances, ibu 39 tahun di Sydney, harus menjalani operasi caesar darurat saat kehamilannya baru 27 minggu—sekitar tiga bulan lebih awal dari perkiraan. Kisah Annabelle dan Amira yang lahir dengan berat 725 gram dan 925 gram ini menunjukkan bagaimana bayi prematur ekstrem bertahan melalui perawatan intensif, sekaligus memberi gambaran risiko dan harapan bagi ibu yang menghadapi kehamilan kembar.

Kelahiran bayi memang momen yang dinanti. Tapi bagi sejumlah keluarga, kebahagiaan itu datang bersamaan dengan ketakutan saat persalinan harus berlangsung jauh sebelum waktunya.

Mengapa Persalinan Darurat Terjadi di Usia 27 Minggu

Sebelum persalinan, Frances dirawat di rumah sakit untuk memantau kehamilan kembarnya. Sehari sebelum operasi pada 29 Juni, dokter mengeluarkan kelebihan cairan ketuban dari salah satu bayi sekaligus memantau risiko twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS).

Keesokan paginya, dokter kandungan datang saat Frances sedang mandi dan memintanya segera melahirkan. Tim medis khawatir salah satu bayi berisiko mengalami henti jantung, sehingga operasi caesar darurat harus dilakukan.

Frances mengaku tidak tahu apa yang akan terjadi di ruang operasi. Ia bahkan sempat berpikir apakah akan membawa pulang satu bayi, dua bayi, atau justru kehilangan keduanya.

Berat Lahir 725 Gram dan 925 Gram

Annabelle lahir lebih dulu dengan berat hanya 725 gram. Adiknya, Amira, menyusul dengan berat 925 gram.

Saat melihat Annabelle untuk pertama kalinya, Frances merasa sulit mempercayai apa yang dilihatnya. Tubuh putrinya begitu mungil sehingga pengalaman itu terasa seperti adegan film.

Ketegangan meningkat saat alarm berbunyi menjelang kelahiran Amira. Rahim Frances mengalami robekan dan situasi di ruang operasi menjadi genting. Norman, suaminya, mengungkapkan bahwa ia sempat khawatir istri dan kedua putrinya tidak akan selamat.

135 Hari Perawatan Intensif di NICU

Setelah lahir, Annabelle dan Amira menghadapi berbagai tantangan kesehatan khas kelahiran prematur. Keduanya mengalami gangguan paru-paru, penyakit mata akibat prematuritas, dan masalah jantung yang serius.

Organ kedua bayi belum berkembang sempurna. Karena itu, mereka membutuhkan pemantauan intensif untuk membantu pernapasan, menjaga suhu tubuh, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta menangani komplikasi yang muncul.

Annabelle dan Amira menjalani perawatan di neonatal intensive care unit (NICU) selama 135 hari. Setelah melewati masa perawatan panjang, keduanya diperbolehkan pulang bersama. Saat kisah ini diberitakan, keduanya sudah berusia sekitar 15 bulan dan tumbuh berkembang dengan baik.

Kenapa Kehamilan Kembar Lebih Berisiko Lahir Prematur

WHO mendefinisikan bayi prematur sebagai bayi yang lahir hidup sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Kelahiran sebelum 28 minggu termasuk kategori prematur ekstrem.

Kehamilan kembar berisiko lebih tinggi lahir prematur dibandingkan kehamilan tunggal. Bayi kembar juga berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan komplikasi lain selama kehamilan.

Pada kehamilan kembar yang berbagi satu plasenta, salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah TTTS. Kondisi ini muncul ketika aliran darah di antara kedua janin tidak seimbang melalui pembuluh darah yang menghubungkan sirkulasi mereka di plasenta.

Akibatnya, salah satu janin menerima terlalu sedikit darah, sedangkan janin lainnya menerima terlalu banyak. TTTS dapat membahayakan salah satu atau kedua bayi sehingga memerlukan pemantauan ketat tim spesialis.

Kasus Frances tidak berarti semua kehamilan kembar dengan TTTS berakhir dengan persalinan pada usia 27 minggu. Penanganan ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing ibu dan janin.

Risiko Kesehatan Bayi Lahir Prematur

Bayi prematur lebih rentan mengalami gangguan kesehatan karena organ tubuhnya belum berkembang sempurna. Beberapa masalah yang dapat muncul:

  • Gangguan pernapasan. Paru-paru bayi mungkin belum menghasilkan cukup surfaktan, zat yang membantu menjaga kantung udara paru-paru tetap terbuka.
  • Kesulitan menjaga suhu tubuh. Bayi prematur memiliki cadangan lemak dan kemampuan mengatur suhu tubuh yang terbatas.
  • Kesulitan menyusu. Refleks hisap dan menelan belum matang sehingga kebutuhan nutrisi sering harus dipenuhi lewat selang.

Kapan Ibu Hamil Kembar Perlu Lebih Waspada

Kehamilan kembar memerlukan pemantauan lebih sering, terutama bila berbagi satu plasenta. Segera konsultasikan ke dokter kandungan jika muncul kontraksi sebelum waktunya, perdarahan, atau gerakan bayi berkurang.

Pemeriksaan rutin membantu dokter mendeteksi risiko seperti TTTS lebih awal. Keputusan waktu persalinan selalu disesuaikan dengan kondisi ibu dan janin, bukan patokan tunggal usia kehamilan.

Kisah Annabelle dan Amira menunjukkan bahwa perawatan intensif yang tepat bisa mengubah awal yang genting menjadi kabar baik. Bagi ibu yang sedang mengandung kembar, dukungan tenaga medis dan pemantauan disiplin adalah kunci menjalani kehamilan dengan lebih tenang.

Reporter: Rendra