7 Fakta Menarik Sumpah Pemuda yang Jarang Diketahui

Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober merujuk pada ikrar hasil Kongres Pemuda II tahun 1928.
Penulis: Rendra
Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:20:32 WIB

KILASKINI.COM — Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda sebagai tonggak persatuan. Di balik ikrar yang lahir dari Kongres Pemuda II pada 1928, ada sejumlah fakta yang jarang dibahas. Berikut tujuh di antaranya yang perlu kamu tahu.

Peringatan Sumpah Pemuda tiap 28 Oktober biasanya diisi upacara dan lomba. Padahal, proses kelahiran ikrar tersebut menyimpan banyak detail bersejarah yang tidak banyak diketahui publik.

1. Istilah "Sumpah Pemuda" Tidak Ada di Naskah Asli

Dokumen yang dibacakan di akhir Kongres Pemuda II justru berjudul "Putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia". Naskah itu memuat tiga pernyataan soal tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Istilah Sumpah Pemuda baru melekat kemudian dan dikenal luas hingga kini.

2. Kongres Digelar di Tiga Gedung Berbeda

Rangkaian rapat 27-28 Oktober 1928 tidak berlangsung di satu tempat. Rapat pertama digelar di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond pada malam 27 Oktober. Rapat kedua berlangsung di Gedung Oost-Java Bioscoop pada pagi 28 Oktober, lalu rapat ketiga di Gedung Indonesische Clubgebouw, Kramat No. 106, pada sore harinya.

3. Lokasi Pembacaan Ikrar Awalnya Rumah Indekos

Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, mulanya rumah milik Sie Kong Lian. Awal abad ke-20, bangunan itu dipakai sebagai tempat tinggal pelajar. Seiring berkembangnya pergerakan pemuda, gedung tersebut jadi markas diskusi organisasi termasuk PPPI. Kini bangunan itu dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda.

4. Naskah Dirumuskan Mohammad Yamin

Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond berperan besar dalam lahirnya ikrar. Ia menjabat sekretaris kongres sekaligus merumuskan tiga butir keputusan soal tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Rumusan itu menunjukkan pergeseran cara pandang dari identitas kedaerahan menuju identitas kebangsaan.

5. Ikrar Dibacakan Sugondo Djojopuspito

Keputusan kongres tidak dibacakan oleh perumusnya. Ketua Kongres Pemuda II, Sugondo Djojopuspito, yang membacakan hasil rumusan tersebut sebelum kongres ditutup. Pembagian peran ini jarang disorot dalam narasi sejarah populer.

6. Indonesia Raya Diperdengarkan lewat Biola

Lagu ciptaan W.R. Soepratman itu diperdengarkan menjelang penutupan kongres melalui permainan biola. Para peserta menyambut penampilan tersebut dengan antusias. Saat itu, Indonesia Raya belum diperdengarkan dalam format seperti yang dikenal sekarang.

7. Perempuan Turut Terlibat dalam Pergerakan

Sejarah Sumpah Pemuda juga berkaitan dengan keterlibatan perempuan dalam pergerakan kebangsaan. Meski ruang partisipasinya terbatas, kehadiran mereka menjadi bagian dari semangat persatuan yang digaungkan kongres.

Ketujuh fakta itu menunjukkan Sumpah Pemuda bukan sekadar upacara tahunan. Ada proses panjang, peran banyak tokoh, dan detail kecil yang membentuk ikrar persatuan pada 1928.

Reporter: Rendra