KILASKINI.COM — Mochi jadi camilan yang selalu diburu wisatawan saat berkunjung ke Jepang. Di balik teksturnya yang kenyal, kue beras ketan ini menyimpan sejumlah fakta menarik yang jarang dibahas. Mulai dari tradisi menumbuk beras hingga cara menyimpannya agar tahan lama.
Mochi bukan sekadar camilan manis. Masyarakat Jepang menjadikannya bagian dari tradisi, dekorasi, sampai sumber energi musiman. Berikut lima fakta yang membuat mochi berbeda dari kue beras biasa.
1. Ada Tradisi Khusus Menyambut Tahun Baru
Menjelang Tahun Baru Jepang, warga menggelar acara bernama Mochitsuki. Kegiatan ini berlangsung pada 25 hingga 28 Desember dengan menumbuk beras ketan untuk membuat mochi.
Prosesnya butuh setidaknya dua orang. Satu orang menumbuk dengan kine (palu kayu), sementara yang lain memutar beras di atas usu (lesung tradisional) yang dialasi usudai. Ritmenya harus konsisten. Kalau salah satu gagal mengikuti irama, palu bisa melukai orang lain.
2. Tidak Selalu Dibuat untuk Dimakan
Mochi kadang hanya jadi hiasan ruangan. Saat Tahun Baru tradisional, warga membuat Kagami mochi, yaitu dua mochi berbentuk bulan yang dipadukan dengan daidai atau jeruk Jepang.
Daun jeruk diletakkan di atas kedua mochi tersebut. Hiasan ini dipajang di berbagai ruangan mulai akhir tahun sampai 11 Januari.
3. Bisa Bertahan Berbulan-bulan di Lemari Es
Mochi tidak mudah kedaluwarsa. Menyimpannya di lemari es membuat camilan ini tetap lezat dan segar hingga beberapa minggu.
Cara ini praktis untuk kamu yang ingin menikmati mochi dalam waktu lama tanpa khawatir teksturnya berubah.
4. Sumber Energi Andalan saat Musim Dingin
Mochi bebas gluten dan kolesterol, sehingga dianggap aman bagi tubuh. Para petani di Jepang sering mengonsumsinya sebagai sumber energi saat musim dingin.
Mochi juga lekat dengan musim tertentu. Warga Jepang biasa menyantap sakura mochi saat musim semi atau isobe maki panggang di musim dingin.
5. Sering Dikira Sama dengan Dango
Banyak orang menganggap mochi dan dango adalah makanan yang sama. Padahal bahan dasarnya berbeda.
Mochi dibuat dari mochigome atau beras ketan, sedangkan dango berasal dari tepung beras kering. Tekstur dan cara pembuatannya pun tidak sama.
Lima fakta ini menunjukkan mochi lebih dari sekadar camilan kenyal. Tradisi, fungsi dekoratif, dan daya simpannya membuat mochi tetap relevan dalam keseharian masyarakat Jepang.