Pencarian

IHSG Anjlok 2,20% ke 5.812,45, Ini Pemicu Utamanya

Kamis, 15 Oktober 2026 • 12:00:31 WIB
IHSG Anjlok 2,20% ke 5.812,45, Ini Pemicu Utamanya
Papan indeks menampilkan IHSG melemah 2,20% ke level 5.812,45 pada perdagangan Kamis (15/10/2026).

KILASKINI.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,20% ke level 5.812,45 pada perdagangan Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Koreksi tajam ini dipicu data inflasi Amerika Serikat September 2026 yang naik di luar perkiraan pasar ke 3,7% year-on-year. Pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan mayoritas bursa Asia Pasifik yang juga tertekan.

Data RTI Business menunjukkan IHSG jatuh bersama sejumlah indeks utama kawasan. Straits Times Index (STI) Singapura melemah 0,90% ke 5.374,75, Shanghai Composite Index (SSEC) turun 1,98% ke 3.692,64, dan Hang Seng Index (HSI) melemah 1,47% ke 23.955,58. Indeks Nikkei 225 Jepang mencatat penurunan paling dalam, yakni 4,71% ke 64.555.

Inflasi AS Jadi Biang Kerok Koreksi Global

Kenaikan Consumer Price Index (CPI) AS ke 3,7% YoY, dengan inflasi inti 2,6%, berada jauh di atas target The Fed. Angka ini memicu ekspektasi bank sentral AS akan mempertahankan sikap hawkish dan kembali menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) satu kali lagi sebelum akhir 2026.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia pasca-rilis data inflasi AS September 2026.

"Koreksi ini (IHSG) juga sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang juga terkoreksi pasca-rilis data inflasi AS September 2026 yang bergerak menguat ke 3,7% YoY, yang masih cukup jauh dari target inflasi The Fed," ucap Herditya kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).

Ia memperkirakan sikap hawkish The Fed akan mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury (UST) yang saat ini masih berada di atas 5%. Kondisi itu berpotensi meningkatkan arus modal asing keluar dari negara-negara Emerging Market (EM), termasuk Indonesia.

"Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM," pungkasnya.

Tiga Sentimen yang Menekan IHSG

Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat sejumlah sentimen utama penyebab rontoknya IHSG:

  • Inflasi AS di atas ekspektasi, dengan CPI September naik melampaui konsensus ke 3,7% YoY dan inflasi inti 2,6%. Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS dan berpotensi menekan rupiah, sekaligus meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.
  • Eskalasi konflik Timur Tengah setelah ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Ancaman ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak yang memperbesar ketidakpastian pasar global.
  • Surplus dagang China bulan September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi permintaan komoditas Indonesia, meski dampaknya terhadap IHSG tertahan oleh sentimen global yang negatif.

Tekanan Rupiah dan Arus Modal Asing

Penguatan dolar AS akibat data inflasi yang panas menjadi perhatian utama pelaku pasar. Risiko outflow dari Emerging Market meningkat seiring kenaikan yield US Treasury yang masih bertahan di atas 5%.

Bagi investor, kombinasi sikap hawkish The Fed dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menciptakan tekanan ganda bagi pasar saham domestik. Sentimen positif dari surplus dagang China belum cukup menopang IHSG di tengah derasnya arus keluar modal asing.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut kondisi ini akan memperkuat posisi dolar AS dan berpotensi menekan rupiah lebih lanjut. Pergerakan IHSG pada sesi berikutnya akan bergantung pada respons pasar terhadap data inflasi AS dan perkembangan konflik di Timur Tengah.

Sumber: finance.detik.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks