KILASKINI.COM — Kementerian ESDM mengungkapkan Indonesia sempat kehilangan 25% sumber impor bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah. Pemerintah bersama Pertamina kini aktif berburu pasokan langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok, meski berpotensi membeli dengan harga lebih tinggi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan mekanisme lelang pengadaan yang biasa dijalankan PT Pertamina (Persero) kini tidak lagi efektif karena minim peminat. Pemerintah terpaksa mengubah pendekatan dengan berburu pasokan secara langsung ke negara pemilik stok berlebih.
"Kita lakukan hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada dan hunting ini tidak lagi mekanisme pengadaan seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, maka sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada. Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok," ujar Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 Kemendagri, yang disiarkan daring.
Harga Beli Berpotensi Lebih Mahal
Laode menyebut pembelian minyak lewat skema hunting berpotensi mengerek harga beli di atas pengadaan biasa. Meski demikian, strategi itu tetap ditempuh demi menjamin ketersediaan pasokan energi dalam negeri.
"Kita beli dengan harga akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa," imbuhnya.
Perubahan lanskap pasokan global membuat Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan jalur pengadaan konvensional. Konflik di Timur Tengah memangkas seperempat sumber impor yang selama ini menopang kebutuhan BBM domestik, memaksa pemerintah mencari alternatif pemasok di luar skema lelang.
Stok Nasional Dijaga di Kisaran 18-20 Hari
Di tengah tekanan pasokan, pemerintah memastikan ketahanan stok BBM nasional tetap terjaga pada level aman 18-20 hari. Selain menjaga cadangan, pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tidak naik demi menekan inflasi serta melindungi petani dan nelayan.
"Jadi, ada dua hal ini, pertama adalah subsidi di solar dan bensin tetap kita jaga tetap, yang kedua adalah ketahanan stok 18-20 hari itu tetap ada," kata Laode.
Keputusan menahan harga subsidi menjadi bantalan penting bagi daya beli masyarakat di saat biaya pengadaan impor berpotensi meningkat. Bagi pelaku usaha, stabilitas harga solar dan bensin berarti biaya operasional tidak ikut melonjak meski harga beli di pasar global bergerak naik.
Antrean BBM di Daerah Bukan karena Kelangkaan
Laode menegaskan antrean BBM yang sempat terjadi di sejumlah daerah murni disebabkan hambatan distribusi akibat El Nino, bukan karena kelangkaan pasokan. Kondisi cuaca ekstrem membuat alur sungai mengering sehingga pengiriman terpaksa dialihkan dari kapal ke armada truk.
"Kondisi El Nino ini menyebabkan proses pengiriman dan distribusi yang contohnya misalnya lewat sungai, sungainya kering, lalu dikirim pakai truk, dan truknya ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan dengan menggunakan kapal-kapal di sungai," tandasnya.
Perpindahan moda angkut dari kapal sungai ke truk menurunkan kapasitas pengiriman per siklus, sehingga pasokan ke sejumlah wilayah tersendat meski stok nasional berada di level aman. Pemerintah menilai persoalan ini bersifat logistik jangka pendek, bukan indikasi kekurangan pasokan di tingkat nasional.