Insentif Mobil Hybrid Dikaji Kemenperin, Diusulkan Tahun Ini
KILASKINI.COM — Kementerian Perindustrian memastikan insentif untuk mobil hybrid masih dalam pembahasan teknis dan akan diusulkan tahun ini, tanpa memastikan besarannya bakal setara insentif mobil listrik. Usulan ini muncul saat pasar hybrid tumbuh tanpa dukungan fiskal, sementara Gaikindo menekankan lima alasan mengapa hybrid layak dapat perhatian pemerintah.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan usulan insentif mobil hybrid belum final. Pembahasan teknis masih berjalan bersama sejumlah pihak, termasuk soal besaran angka yang akan diajukan ke pemerintah.
"Masih dalam proses pembahasan teknis. Nanti seberapa besar insentif yang akan kita usulkan akan lebih diperjelas lagi," kata Sarmuji, dikutip Antara.
Yang sudah pasti, insentif mobil hybrid akan diusulkan tahun ini. Sarmuji tidak menjanjikan nominalnya sama dengan insentif mobil listrik berbasis baterai (BEV).
Beda Perlakuan dengan Mobil Listrik
Pemerintah tidak ingin menyamakan insentif hybrid dan BEV. Menurut Sarmuji, yang terpenting adalah ada dukungan pemerintah untuk memperkuat industri otomotif nasional, bukan menyamakan besaran stimulus antarjenis kendaraan.
"Tahun ini akan kita usulkan. Usulannya akan tahun ini," ucapnya.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa insentif hybrid kemungkinan berbentuk lebih ringan dibanding insentif BEV yang sudah berjalan. Namun belum ada angka, skema pajak, atau mekanisme yang dibeberkan.
Lima Alasan Gaikindo: Hybrid Tak Butuh SPKLU
Ketua Pengembangan Pasar Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto memaparkan lima kriteria yang membuat hybrid layak diperhatikan. Alasan pertama soal konsumsi bahan bakar.
Mesin bensin pada hybrid lebih jarang hidup karena dibantu tenaga listrik dari baterai. "Kalau baterainya habis, maka baru mesin bensinnya hidup untuk mengisi baterainya," ujar Jongkie dalam program AutoBizz yang ditayangkan CNBC Indonesia.
Alasan kedua, emisi lebih rendah. Karena mesin bensin jarang menyala, hybrid tidak menyumbang polusi sebanyak mobil konvensional.
Alasan ketiga menyangkut infrastruktur. Mobil hybrid, plug-in hybrid, dan REEV tidak bergantung pada charging station atau SPKLU yang jumlahnya masih terbatas di Indonesia.
"Jadi kita jangan hanya melihat Jakarta, kita harus melihatnya secara keseluruhan, Indonesia," bebernya.
Harga Lebih Terjangkau dan Rantai Pasok Komponen
Alasan keempat: harga. Mobil hybrid relatif lebih terjangkau dibanding BEV karena tidak memerlukan baterai berukuran besar.
"Ini kan yang paling mahal dari sebuah mobil listrik itu kan baterainya. Jadi, kalau itu full baterai dari depan sampai ke belakang itu pasti lebih mahal dibanding kalau mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV, baterainya kecil-kecil," ujarnya.
Alasan kelima dan yang paling penting bagi industri: hybrid masih memakai komponen mobil konvensional. Knalpot, exhaust system, filter, dan radiator tetap dibutuhkan.
"Jadi, pabrik-pabrik komponen yang eksis ada di Indonesia saat ini juga bisa masih lanjut memproduksi produk itu untuk dipasang di mobil-mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV," kata Jongkie.
Dari sisi permintaan, Gaikindo tidak menuntut insentif hybrid sebesar BEV. "Kami mengatakan tidak perlu sebanyak atau sebesar BEV. Tapi kalau boleh dan kalau bisa ini juga diberikan insentif," ujarnya.
Yang Perlu Diperhatikan
- Belum ada angka insentif, skema pajak, atau bentuk stimulus yang resmi — semua masih tahap pembahasan teknis
- Tidak ada kepastian apakah insentif berlaku untuk semua hybrid, plug-in hybrid, dan REEV, atau dibatasi tipe tertentu
- Jadwal pengajuan "tahun ini" belum disertai bulan target, sehingga waktu implementasi masih terbuka
- Besaran insentif hybrid dipastikan tidak otomatis sama dengan BEV, artinya dampak ke harga jual belum bisa dihitung konsumen
Artinya buat Calon Pembeli
Insentif hybrid, jika terealisasi, berpotensi menurunkan harga jual dan memperkecil selisih dengan versi bensin. Dampak paling terasa untuk model hybrid yang diproduksi lokal dan memakai komponen dalam negeri.
Sampai usulan resmi masuk dan angkanya keluar, konsumen sebaiknya tidak menunda pembelian dengan asumsi harga hybrid akan turun tahun ini. Pembahasan teknis bisa memakan waktu, dan bentuk insentifnya belum tentu berupa potongan harga langsung.