Laktoferin ASI: Protein Pelindung Bayi yang Sudah Ada Sejak 160 Juta Tahun Lalu
KILASKINI.COM — Laktoferin dalam ASI ternyata menyimpan kemampuan melawan bakteri yang sudah berfungsi sejak sekitar 160 juta tahun silam, jauh sebelum manusia ada. Penelitian terbaru mengungkap bagaimana protein ini bekerja menghambat pertumbuhan kuman penyebab infeksi, dan apa artinya bagi ibu yang sedang menyusui si kecil.
Laktoferin merupakan protein pengikat zat besi yang ada di dalam ASI, dan menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) protein ini bersifat bakteriostatik alias menghambat pertumbuhan bakteri. Temuan yang diterbitkan di jurnal PLOS Biology pada 25 Agustus 2026 menunjukkan bagian antimikroba dalam protein ini sudah aktif sejak zaman dinosaurus masih hidup.
Apa Itu Laktoferin dan Mengapa Penting untuk Bayi
Laktoferin bekerja dengan mengikat zat besi yang dibutuhkan sejumlah bakteri untuk tumbuh, termasuk Staphylococcus dan Escherichia coli. Ketika akses bakteri terhadap zat besi terbatas, pertumbuhannya ikut terhambat.
Kadar laktoferin paling tinggi ada pada kolostrum, ASI awal yang keluar setelah persalinan. Komponen pelindung lain seperti lisozim, sel kekebalan, dan antibodi turut bekerja berdampingan, jadi perlindungan ASI datang dari banyak sisi sekaligus.
Jejak 160 Juta Tahun di Balik Perlindungan ASI
Tim peneliti yang dipimpin Titas Sil bersama Matthew F. Barber dari University of Oregon memperkirakan susunan protein leluhur mamalia purba lewat data genetik. Fragmen protein itu lalu dibuat ulang di laboratorium dan diuji kemampuannya melawan bakteri.
Fokus penelitian ada pada laktoferisin, bagian kecil di dalam laktoferin yang punya aktivitas antimikroba. Versi leluhurnya terbukti sudah mampu merusak membran bakteri, dan pada beberapa versi yang muncul kemudian kemampuan membunuh kumannya justru makin kuat.
Dua Cara Laktoferin Melawan Bakteri Jahat
Selain membatasi ketersediaan zat besi, laktoferin menyimpan peptida antimikroba yang bisa melubangi membran bakteri. Membran ini ibarat pembatas yang menjaga isi sel tetap di tempatnya, dan ketika rusak, fungsi sel bakteri ikut terganggu.
Dalam penjelasan resmi University of Oregon, Titas Sil menyebut peptida antimikroba sebagai bagian penting dari pertahanan awal tubuh. Kemampuannya menghadapi beragam patogen membuat kelompok molekul ini menarik diteliti untuk pengembangan terapi.
Perubahan Kecil yang Memengaruhi Kekuatan Protein
Peneliti menemukan bahwa perubahan pada satu posisi asam amino saja bisa memengaruhi aktivitas laktoferisin terhadap bakteri tertentu. Evolusi tidak selalu membuat setiap versi protein lebih kuat terhadap semua kuman, karena efeknya bergantung pada susunan peptida dan jenis bakteri yang dihadapi.
Matthew F. Barber, associate professor bidang biologi di University of Oregon, menjelaskan bahwa mempelajari sifat yang terbentuk lewat evolusi dapat membantu ilmuwan merancang perangkat antimikroba baru. Protein masa lampau pun membuka ide untuk menghadapi persoalan infeksi masa kini.
Yang Perlu Ibu Pahami Soal Temuan Ini
Penelitian tersebut menguji fragmen protein di laboratorium, jadi hasilnya belum membuktikan peptida purba bisa dipakai sebagai obat infeksi pada manusia. Untuk keseharian, manfaat menyusui tetap berpegang pada bukti kesehatan yang lebih luas.
WHO menjelaskan ASI mengandung antibodi yang membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit umum pada anak. WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, lalu dilanjutkan MPASI yang aman dan memadai sambil tetap menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.
Kalau Bunda menghadapi kendala menyusui, dukungan tenaga kesehatan bisa membantu mengatasi masalah dan memantau pertumbuhan bayi. Perlindungan alami tubuh yang terbentuk lewat perjalanan evolusi panjang ini tetap layak disyukuri setiap kali si kecil menyusu.