Harga Minyak Brent Naik ke US$99,86 per Barel usai Serangan Tanker di Selat Hormuz
KILASKINI.COM — Harga minyak mentah Brent naik US$1,57 atau 1,6 persen menjadi US$99,86 per barel pada perdagangan Jumat (6/11), dipicu eskalasi serangan kapal tanker di Selat Hormuz. Kenaikan ini menghapus harapan deeskalasi pascapemilu Amerika Serikat yang sempat menekan harga hingga 8 persen dua hari sebelumnya. Aliran minyak melalui Selat Hormuz kini beroperasi di bawah 60 persen dari kapasitas normal.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Januari menguat ke US$99,86 per barel pada pukul 02.22 GMT atau 09.22 WIB. Sementara itu, minyak mentah berjangka US West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,10 atau 1,22 persen menjadi US$91,62 per barel pada perdagangan yang sama.
Penguatan harga minyak dunia terjadi setelah serangan terhadap kapal-kapal tanker di kawasan Teluk dan Selat Hormuz pada Rabu dan Kamis (5/11). Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, mengonfirmasi intensitas serangan di perairan tersebut masih berada pada tingkat yang hampir memecahkan rekor.
Harapan Damai Pascapemilu AS Sirna
Harga minyak sempat anjlok hingga 8 persen pada Rabu (4/11) ke level terendah dalam dua bulan terakhir. Pasar ketika itu optimistis kemenangan Partai Demokrat yang merebut kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Republik pimpinan Presiden AS Donald Trump akan memicu deeskalasi konflik AS-Israel melawan Iran yang telah memasuki bulan kesembilan.
Sentimen damai tersebut cepat terhapus oleh dinamika di lapangan. Lonjakan serangan terhadap kapal tanker membuat kekhawatiran pasar kembali menguat, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi aliran minyak dunia.
Iran Disebut Masih Kuasai Selat Hormuz
Ahli Strategi Komoditas Senior ANZ, Daniel Hynes, menilai para pedagang menganggap aksi jual pada Rabu lalu sudah berlebihan. Menurutnya, realitas situasi geopolitik kembali menyadarkan pasar pada perdagangan Kamis.
"Iran memegang kendali atas Selat Hormuz dan kecil kemungkinan mereka akan melepaskan kendali tersebut," ujar Hynes, dikutip dari Reuters.
Hynes menambahkan, aliran minyak yang melalui Selat Hormuz saat ini beroperasi di bawah 60 persen dari kapasitasnya. Kondisi tersebut memperkuat risiko berlayar di rute pelayaran strategis itu.
Tiga Tanker Jadi Target Serangan pada Kamis
Otoritas Iran menyatakan terdapat tiga kapal tanker yang menjadi target serangan di Selat Hormuz pada Kamis (5/11). Insiden tersebut sejalan dengan tingginya risiko pelayaran di kawasan Teluk yang kembali memantik kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.
Bagi konsumen Indonesia, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi memberi tekanan pada biaya impor energi dan nilai tukar rupiah. Pemerintah biasanya mencermati pergerakan harga minyak global sebelum menyesuaikan kebijakan harga bahan bakar bersubsidi maupun non-subsidi.