Hippindo Waspadai Penjualan Ritel Melambat September-November, Buka Pasar Ekspor Jadi Andalan

Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah menyampaikan paparan dalam Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Penulis: Farah
Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:34:01 WIB

KILASKINI.COM — Pelaku usaha ritel bersiap menghadapi periode sepi penjualan yang diprediksi terjadi pada September, Oktober, dan November 2026. Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, salah satu langkah yang disiapkan adalah membuka akses pasar ekspor bagi para produsen dalam negeri.

"Kita akan coba membuka pasar ekspor untuk para teman-teman produsen. Itu adalah tanggung jawab daripada kami juga selaku offtaker. Ke depan ini bulan-bulan sepi mulai bulan sembilan (September), sepuluh (Oktober), sebelas (November) harus ada upaya dari kita untuk meningkatkan penjualan," kata Budihardjo dalam acara Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Swissotel PIK Avenue Jakarta Utara, Rabu (26/8).

Ritel Offline Bergantung pada Traffic Konsumen

Budihardjo menyebut sektor ritel luring sangat bergantung pada arus kunjungan konsumen ke pusat perbelanjaan. Jika trafik menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan peritel, tetapi juga sektor lain seperti perhotelan dan restoran.

"Tadi sudah melapor ke Pak Mendag (Budi), habis ini kita harus melakukan sesuatu kalau tidak nanti hotel-hotel juga sepi," ujarnya.

Hippindo telah menyampaikan kekhawatiran ini kepada Menteri Perdagangan Budi Santoso. Pelaku usaha berharap ada intervensi kebijakan yang menjaga stabilitas ekonomi dan politik agar aktivitas perdagangan tetap berjalan normal.

"Sektor offline sangat bergantung sama offline-nya, harus ada traffic, harapan kami bisa ada dukungan dari pemerintah agar ekonomi stabil, politik pasti stabil," kata Budihardjo.

Kontribusi Ritel terhadap Konsumsi Domestik

Sekretaris Jenderal Hippindo Haryanto Pratantara menegaskan bahwa kinerja ritel berkaitan erat dengan konsumsi domestik yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

"Karena pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sangat ditentukan oleh konsumsi dalam negeri yang porsinya lebih dari 50 persen. Dan kalau bicara konsumsi dalam negeri tentu tidak lepas dari sektor utama pendorongnya yaitu retail," imbuh Haryanto.

Ia juga menyoroti penyerapan tenaga kerja di sektor ritel yang kerap luput dari pembahasan industri padat karya. Padahal, sektor ini menyerap jutaan pekerja baik dari perusahaan formal maupun informal.

"Selain itu, ritel merupakan sektor yang sangat padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja. Tapi sayangnya sering terlupakan bahwa kalau ritel ini padat karya, karena biasanya definisi padat karya ini dikaitkan ke industri manufaktur," ujarnya.

Alfamart, Indomaret, dan Ribuan UMKM di Sektor Ritel

Haryanto mencontohkan Alfamart dan Indomaret yang masing-masing memiliki puluhan ribu gerai dengan karyawan lebih dari 100 ribu orang. Kawan Lama Group juga disebut memiliki puluhan ribu pekerja, sementara perusahaan ritel kelas menengah menyerap ribuan tenaga kerja.

Di luar perusahaan formal, sektor informal yang tidak terdaftar juga memiliki jumlah besar. Mayoritas pelakunya adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan hidup pada aktivitas perdagangan.

Budihardjo menambahkan, pelaku usaha akan terus berupaya menciptakan lapangan kerja, membuka toko baru, dan memastikan distribusi barang berjalan lancar. Ketersediaan stok dan stabilitas harga menjadi prioritas utama.

"Jadi kita akan berjuang agar lapangan kerja tercipta, membuka banyak toko, mendistribusikan barang, memastikan harga-harga stabil, stok semua ada. Untuk itu kita butuh kerja sama dengan semua stakeholder," ujar Budihardjo.

Reporter: Farah