Kemenbud Kirim Tim Konservasi ke Museum Le Mayeur, Warna Lukisan Karung Mulai Pudar
Media Karung di Masa Perang Jadi Fokus Perhatian
KILASKINI.COM — Fadli menyoroti lukisan yang dibuat di atas media karung atau bakor, yang digunakan Le Mayeur ketika kanvas sulit diperoleh pada masa Perang Dunia II. Menurut dia, warna pada karya-karya tersebut paling rentan mengalami pemudaran.
"Salah satu tantangannya adalah memudarnya warna-warna. Kalau kita lihat warna aslinya, ini sangat kuat sekali. Tapi ada juga warna-warna yang memudar, terutama yang medianya karung atau bakor," kata Fadli dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (1/9).
Fadli menambahkan, lokasi museum yang berada di kawasan pesisir Sanur turut memengaruhi kondisi fisik koleksi. Paparan udara laut dan kelembapan menjadi faktor yang mempercepat proses penurunan kualitas karya.
Tim Galeri Nasional Akan Menilai dan Menentukan Penanganan
Kemenbud akan melibatkan tim konservator dari Galeri Nasional untuk melakukan asesmen menyeluruh terhadap 88 karya seni yang tersimpan di museum. Fokus utamanya menjaga keaslian lukisan, termasuk karakter dan warna asli karya agar tidak terus mengalami penurunan kondisi.
Langkah konservasi ini menjadi prioritas mengingat museum tersebut menyimpan jejak perjalanan hidup Le Mayeur, pelukis asal Belgia yang menetap di Bali sejak 1933. Ia datang setelah menjelajahi berbagai negara dan kemudian bertemu Ni Nyoman Pollok, penari Legong yang menjadi istrinya sekaligus model dalam sejumlah lukisannya.
Keduanya membangun rumah di pesisir Sanur yang kini menjadi Museum Le Mayeur. Banyak lukisan di sana menggambarkan perempuan Bali, kehidupan masyarakat, budaya, dan lanskap Pulau Dewata dengan corak impresionisme.
Kunjungan Masih Sepi, Promosi Perlu Diperkuat
Selain persoalan konservasi, Fadli juga menyoroti rendahnya jumlah kunjungan ke Museum Le Mayeur. Museum ini rata-rata hanya menerima sekitar 100 pengunjung per bulan, dan sebagian besar merupakan wisatawan asing dari Eropa.
Menurut Fadli, promosi perlu diperkuat agar karya dan perjalanan hidup Le Mayeur lebih dikenal masyarakat luas. Ia menilai museum ini memiliki nilai sejarah dan artistik yang tinggi, tetapi belum tergarap optimal dari sisi publikasi dan daya tarik pengunjung.
Dalam kunjungan itu, Fadli didampingi sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, serta pengelola museum. Rencana konservasi dan strategi promosi disebut akan dibahas lebih lanjut setelah tim Galeri Nasional menyelesaikan asesmen awal.