Pencarian

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Ingatkan Dieng Culture Festival Jangan Korbankan Nilai Tradisi demi Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 12:16:32 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Ingatkan Dieng Culture Festival Jangan Korbankan Nilai Tradisi demi Ekonomi
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengingatkan agar Dieng Culture Festival tidak mengorbankan nilai sakral tradisi demi kepentingan ekonomi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengingatkan agar pemanfaatan tradisi Ruwatan Anak Berambut Gimbal untuk pariwisata tidak mengorbankan nilai sakralnya. Pesan ini disampaikan dalam pembukaan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (28/8). Masyarakat Dieng harus tetap menjadi pemilik utama atas tradisi yang diwariskan lintas generasi itu.

BANJARNEGARA — Peringatan keras soal komersialisasi budaya kembali menggema di tengah gelaran Dieng Culture Festival (DCF) 2026. Kementerian Kebudayaan menegaskan, ritual sakral Ruwatan Anak Berambut Gimbal tidak boleh direduksi menjadi sekadar tontonan untuk menarik wisatawan.

“Jangan sampai nilai budaya dikorbankan dengan kepentingan ekonomi. Inilah salah satu tantangan kita ke depan,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Warisan Budaya Kemenbud Agus Widiatmoko, Jumat.

Bukan Sekadar Cukur Rambut, tapi Living Tradition

Fadli menjelaskan, prosesi ruwatan bagi anak berambut gimbal di Dieng mengandung sistem pengetahuan yang kompleks. Di dalamnya tersimpan simbol doa, hubungan sosial, nilai spiritual, penghormatan kepada leluhur, hingga gotong royong.

“Yang sesungguhnya kita wariskan bukan hanya ritual mencukur rambut, melainkan nilai yang hidup di baliknya,” ujarnya.

Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2016 dalam domain adat istiadat, ritus, dan perayaan. Status tersebut menjadikan Dieng sebagai salah satu episentrum pelestarian budaya di Jawa Tengah.

Bagaimana Agar Pariwisata Tak Menggerus Nilai Sakral?

Menurut Fadli, kebudayaan yang hidup justru harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat pemiliknya. Wisatawan yang datang ke Dieng diharapkan tidak hanya menyaksikan ritual, tetapi juga mengenal sejarah, menikmati kesenian lokal, mencicipi pangan khas, hingga membeli produk warga.

Dengan begitu, pariwisata membuka ruang ekonomi kreatif dan lapangan kerja tanpa harus mengorbankan esensi spiritual tradisi. “Kita tidak ingin tradisi hanya menjadi tontonan. Kita tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton dari kebudayaannya sendiri,” tegasnya.

Regenerasi Pengetahuan Jadi Kunci Keberlanjutan

Fadli menekankan pentingnya regenerasi pengetahuan kepada generasi muda Dieng. Mereka harus memahami makna, sejarah, dan hubungan tradisi dengan lingkungan, bukan sekadar tata cara pelaksanaan ritual.

Pelestarian ini membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Pemerintah, komunitas budaya, sesepuh, seniman, pelaku wisata, sekolah, hingga dunia usaha harus bergandengan tangan menjaga tradisi tetap hidup.

“Kami berharap DCF 2026 tidak berhenti sebagai festival, tetapi mampu menjaga tradisi Dieng sebagai living tradition yang terus diwariskan lintas generasi,” kata Fadli.

Rangkaian DCF 2026 di Banjarnegara

DCF yang memasuki tahun ke-16 ini digelar selama tiga hari, 28–30 Agustus. Agenda puncaknya adalah prosesi Ruwatan Anak Berambut Gimbal yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (29/8).

Festival tahunan ini menjadi magnet wisata utama Kabupaten Banjarnegara, menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah untuk menyaksikan perpaduan budaya dan keindahan alam Dataran Tinggi Dieng.

Sumber: jateng.antaranews.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks