JAKARTA — Panggung Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 resmi ditutup dengan torehan menggembirakan bagi pelaku usaha dari Sulawesi Selatan. Sepanjang pameran yang digelar di JIExpo Kemayoran itu, UMKM asal provinsi ini mencatatkan transaksi gabungan mencapai Rp1,028 miliar, gabungan dari penjualan langsung di booth dan platform daring.
Angka tersebut dirinci dari transaksi luring senilai Rp215 juta dan pameran online yang menyumbang Rp813 juta. Lebih dari itu, keikutsertaan UMKM Sulsel di ajang nasional ini juga membuka gerbang ekspor ke pasar global, ditandai dengan penandatanganan sejumlah Letter of Intent (LoI) dengan mitra dari Kanada, Singapura, hingga Amerika Serikat.
Produk Kopi dan Wastra Jadi Primadona di Mata Buyer Global
Dari total 24 UMKM yang mewakili Sulsel, tiga di antaranya merupakan pengrajin wastra yang tampil di pameran luring. Mereka adalah Losari Silk dan Arni Kurnia Silk asal Wajo, serta Pio Etnik dari Toraja Utara. Sementara itu, 21 UMKM lainnya mengikuti KKI Online dengan membawa produk kopi, makanan olahan, fesyen, hingga kriya.
Daya tarik produk lokal Sulsel terbukti di mata pembeli internasional. Sebanyak 7 UMKM binaan Bank Indonesia Sulsel mengikuti 15 sesi business matching dengan 10 buyer dan aggregator. Hasilnya, 6 LoI berhasil diteken dengan potensi nilai transaksi ekspor Rp380,75 juta. Komoditas kopi asal Sulsel menjadi primadona, dengan permintaan masuk dari Kanada, Singapura, dan Amerika Serikat.
KKI 2026 Jadi Momentum Perkuat Ekosistem UMKM Nasional
Capaian UMKM Sulsel ini menjadi bagian dari kesuksesan KKI 2026 secara keseluruhan. Penjualan sementara ajang ini mencapai Rp144,2 miliar, melonjak 46 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Selain itu, business matching ekspor membukukan transaksi Rp169,9 miliar yang melibatkan 192 UMKM dan pembeli dari 16 negara.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak berhenti pada transaksi semata. Menurutnya, ekosistem yang berkelanjutan menjadi kunci agar UMKM Indonesia terus tumbuh dan berdaya saing. “Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami adakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing. Tapi, UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan agar tumbuh, tangguh, dan berdaya saingnya UMKM Indonesia terus berlangsung,” ujarnya dalam seremoni penutupan.
Sinergi 46 Kantor BI Dorong UMKM Naik Kelas
KKI 2026 sendiri melibatkan lebih dari 1.860 UMKM dari seluruh Indonesia, dengan hampir 560 di antaranya hadir secara luring. Ajang ini juga didukung oleh 27 kementerian/lembaga serta 34 asosiasi industri dan perbankan. Pengembangan dan kurasi produk UMKM diperkuat oleh jaringan 46 Kantor Perwakilan Dalam Negeri dan 5 Kantor Perwakilan Luar Negeri Bank Indonesia.
Program pendampingan seperti Cangkir Barista untuk pengembangan wirausaha kopi dan Citra Nusa untuk penguatan wastra juga menjadi bagian dari ekosistem yang dibangun. Keikutsertaan UMKM Sulsel di KKI 2026 diharapkan semakin memperluas eksposur, membuka akses pasar, dan menjalin kemitraan strategis, baik di tingkat nasional maupun global, sekaligus mendorong mereka untuk naik kelas. (*)