KILASKINI.COM — Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai akumulasi sentimen risiko fiskal dan ketidakpastian eksternal masih membebani pergerakan mata uang garuda. Pelaku pasar valuta asing diproyeksikan tetap mengambil posisi defensif sambil menunggu arah pergerakan dolar AS lebih lanjut.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.730 hingga Rp 17.750 per dolar AS," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Selasa (25/8/2026).
Evaluasi Fitch Ratings Jadi Pemicu Kehati-hatian Pasar
Kewaspadaan pasar menguat setelah Fitch Ratings menyoroti target pertumbuhan ekonomi enam persen yang dipatok pemerintah untuk 2027. Lembaga pemeringkat internasional itu menilai angka tersebut lebih realistis dibanding ambisi delapan persen, tetapi masih berada di atas proyeksi Fitch sebesar lima persen.
Fitch menggarisbawahi sejumlah risiko penurunan yang membayangi prospek perekonomian tahun depan. Ketidakpastian geopolitik global yang berlarut-larut, fluktuasi harga energi mentah dunia, serta pelemahan kinerja ekspor akibat perlambatan ekonomi mitra dagang utama dinilai dapat menahan laju ekspansi ekonomi nasional.
Target Defisit 2,4 Persen Dinilai Sulit Dipertahankan
Dari sisi fiskal, pemerintah mematok target defisit anggaran 2027 sebesar 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dari target 2026 yang sebesar 2,85 persen. Angka ini masih berada di bawah pagu legal tiga persen PDB.
Namun, Fitch mengingatkan konsolidasi anggaran tersebut berpotensi sulit dipertahankan. Pola penyusunan anggaran sebelumnya kerap me