Harga BBM Pertamina, Shell dan BP Stabil di Awal Agustus, Ini Daftar Terbarunya
KILASKINI.COM — PT Pertamina Patra Niaga, melalui laman resminya yang dipantau pada Senin (4/8), memastikan seluruh produk BBM ritelnya tidak mengalami penyesuaian harga. Kebijakan ini berlaku untuk jaringan SPBU Pertamina di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya, sebuah sinyal bahwa pemerintah dan badan usaha masih menahan laju kenaikan di tingkat konsumen.
Kepastian harga ini juga diikuti oleh operator asing. Shell Indonesia dan bp Indonesia dilaporkan mempertahankan banderol produk unggulan mereka pada periode yang sama. Artinya, tidak ada gejolak harga di SPBU manapun yang biasa disinggahi pengendara di ibu kota.
Segmen High-Octane Pertamina Masih Bertahan di Atas Rp 15 Ribu
Untuk produk dengan oktan tinggi, Pertamina membanderol Pertamax di angka Rp 15.950 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo yang menyasar kendaraan performa tinggi dijual dengan harga Rp 18.300 per liter.
Berikut rincian lengkap harga BBM di SPBU Pertamina yang berlaku per 1 Agustus 2026:
- Pertalite (RON 90): Rp 10.000 per liter
- Solar Subsidi: Rp 6.800 per liter
- Pertamax (RON 92): Rp 15.950 per liter
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp 18.300 per liter
- Pertamax Green (RON 92): Rp 16.600 per liter
- Dexlite: Rp 19.700 per liter
- Pertamina Dex: Rp 21.150 per liter
Diesel Shell dan bp Dipatok di Harga yang Sama
Menariknya, persaingan harga untuk segmen bahan bakar diesel berkualitas justru menunjukkan keseragaman. Shell membanderol V-Power Diesel di angka Rp 21.910 per liter, dan bp memasang harga identik untuk produk BP Ultimate Diesel.
Di segmen bensin, bp mematok harga BP Ultimate di angka Rp 16.760 per liter dan BP 92 sebesar Rp 16.130 per liter. Dengan rentang harga yang tipis, konsumen memiliki beberapa alternatif pengisian di luar jaringan Pertamina tanpa perbedaan biaya signifikan.
Solar Subsidi: Harga Paling Stabil di Tengah Tekanan Hulu
Di tengah isu kenaikan harga minyak mentah global, Solar Subsidi justru menjadi produk dengan banderol paling rendah, yakni Rp 6.800 per liter. Angka ini masih jauh di bawah harga keekonomian, menunjukkan besarnya subsidi yang ditanggung negara untuk menjaga daya beli masyarakat.
Stabilitas harga ini tentu menjadi angin segar bagi pelaku usaha logistik dan transportasi umum, di mana biaya operasional sangat bergantung pada fluktuasi BBM.
Melihat pola penetapan harga yang bertahan selama empat hari pertama bulan ini, indikasi awal menunjukkan tidak akan ada perubahan signifikan dalam waktu dekat. Namun, kondisi pasar energi internasional tetap menjadi variabel yang wajib dipantau oleh konsumen.