Prabowo Tutup 700 BUMN Hingga Akhir 2026, Sisa 250 Perusahaan Negara
KILASKINI.COM — Angka tersebut disampaikan Prabowo saat menutup Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Senin (31/8). Sebelumnya, pemerintah mengklaim telah menutup 290 BUMN dalam kurang dari dua tahun terakhir. Perusahaan yang ditutup adalah yang merugi, tak memiliki kinerja baik, dan dinilai membebani keuangan negara.
Penghematan Rp100 Triliun dari Penutupan Massal
Efisiensi dari 290 BUMN yang sudah ditutup menghasilkan penghematan anggaran sekitar Rp50 triliun. Kini, dengan target tambahan menutup minimal 700 perusahaan pelat merah, pemerintah memperkirakan potensi penghematan mencapai Rp100 triliun.
"Berarti harapan saya kita bisa menghemat Rp100 triliun dari overhead dari biaya rutin; gaji direksi, gaji komisaris," ujar Prabowo dalam acara yang disiarkan daring tersebut.
Penghematan ini terutama berasal dari pengurangan biaya operasional rutin, bukan hanya gaji direksi dan komisaris, tetapi juga berbagai tunjangan yang menyertainya.
Jumlah BUMN Ternyata 1.074, Bukan 300-400
Dalam Pidato Kenegaraan di Sidang MPR/DPR/DPD pada 14 Agustus lalu, Prabowo mengungkapkan temuan yang mengejutkan: ada 1.074 BUMN di Indonesia. Jumlah itu termasuk anak perusahaan, cucu perusahaan, hingga cicit perusahaan.
"Ini luar biasa, saya mengira BUMN itu (jumlahnya) 300-400," katanya saat itu.
Berdasarkan temuan tersebut, banyak BUMN yang tidak produktif, terus mengalami kerugian, bahkan diduga melakukan rekayasa laporan keuangan. Pemerintah pun sempat membuka opsi pembentukan pengadilan ad hoc untuk mengusut pengurus BUMN bermasalah.
Dana Hasil Efisiensi Digelontorkan ke Rakyat
Prabowo menyebut total penghematan dari berbagai kebijakan efisiensi, termasuk penutupan BUMN, kini mendekati Rp300 triliun per tahun. Dana itu dialihkan ke program yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
"Uang ini yang kita alihkan yang kita gelontorkan sebesar-besarnya kepada rakyat, ini yang kita pakai," tegasnya.
Kebijakan ini diambil untuk mengurangi beban biaya perusahaan negara yang selama ini menjadi salah satu sumber kebocoran anggaran.
Target Akhir: Hanya 250 BUMN Tersisa
Dengan penutupan 700 BUMN lagi, jumlah perusahaan pelat merah diproyeksikan tinggal sekitar 250. Angka ini lebih rendah dari target sebelumnya yang menyebut maksimal 300 perusahaan pada akhir 2026.
Perusahaan yang tersisa nantinya akan diarahkan untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi beban negara. Restrukturisasi ini menjadi bagian dari agenda pemerintahan Prabowo untuk merampingkan BUMN dan mengalihkan belanja ke sektor yang lebih produktif.
Langkah ini memang drastis, tapi pemerintah menilai perlu untuk menghentikan kerugian berkepanjangan. Pertanyaannya, seberapa cepat penutupan ini berjalan tanpa mengganggu layanan publik yang selama ini bergantung pada perusahaan negara.