Saham Tesla Naik 4% saat Robot Humanoid Optimus Masuki Tahap Produksi

Saham Tesla naik 4 persen setelah robot humanoid Optimus memasuki tahap produksi di fasilitas Fremont, California.
Penulis: Rendra
Selasa, 01 September 2026 | 12:10:31 WIB

KILASKINI.COM — Kenaikan saham Tesla pada sesi Senin (14/4) menjadi pengecualian di tengah pelemahan indeks utama Amerika Serikat. Pemicunya bukan strategi harga atau penjualan kendaraan, melainkan kabar kemajuan proyek robotika yang selama ini diandalkan sebagai prospek jangka panjang perusahaan.

Optimus Mulai Diproduksi di Fremont, Target 100 GW Tenaga Surya

Melalui akun X, Elon Musk mengonfirmasi robot humanoid Optimus telah mencapai tahap produksi di fasilitas Fremont, California. Ini bukan sekadar prototipe atau uji coba lapangan, melainkan proses produksi yang berjalan.

Musk juga menyebut SpaceX dan Tesla tengah membangun lebih dari 100 gigawatt kapasitas produksi tenaga surya per tahun. Proyek energi terbarukan itu berpotensi memperkuat rantai pasok pabrik kendaraan listrik Tesla, terutama untuk kebutuhan listrik fasilitas produksi dan baterai.

Respons pasar terhadap kabar ini tak seragam. Saham SpaceX bergerak datar, namun sejumlah perusahaan sejenis seperti Howmet Aerospace justru melemah beberapa persen. Ini menunjukkan persepsi Tesla yang kian bergeser dari sekadar produsen mobil menjadi pemain energi dan robotika.

Wall Street Tertekan, Biaya Pembiayaan Jadi Ketakutan Utama

Di sisi lain, indeks acuan AS ditutup melemah. Russell 2000 yang banyak dihuni perusahaan kecil mencatat penurunan hampir 1%, sementara US500 dan US30 turun sekitar 0,5%. Nasdaq 100 yang didominasi teknologi relatif lebih tahan dengan pelemahan 0,2%.

Korelasi penurunan ini mengarah pada kekhawatiran suku bunga. Perusahaan dalam Russell 2000 secara proporsional lebih rentan terhadap biaya pembiayaan yang lebih tinggi. Reaksi mereka pun lebih dalam dibandingkan raksasa teknologi yang punya kas melimpah.

Pidato Ketua The Fed dan episode saling serang di Timur Tengah menjadi dua katalis utama pembebani sentimen. Namun sejauh ini, dampak konflik terhadap lalu lintas minyak masih relatif terbatas.

Minyak Kembali ke US$90, Harga Paladium Justru Jatuh

Serangan yang melibatkan AS dan Iran di kawasan Teluk membuat harga energi naik. Brent kembali mendekati US$90 per barel, level yang berpotensi mengerek biaya logistik dan produksi otomotif global.

Di saat bersamaan, data dari Chile menunjukkan produksi tembaga turun 9,8% ke level terendah sejak 2011. Tembaga merupakan bahan utama motor listrik dan komponen elektronik kendaraan.

Namun harga paladium justru turun hingga 4%, menghapus sebagian kenaikan pekan lalu. Paladium banyak dipakai pada catalytic converter kendaraan konvensional. Fluktuasi harga komoditas ini menjadi sinyal bagi pabrikan di Asia, termasuk Indonesia, dalam menentukan strategi harga komponen dan kendaraan jadi.

Chevron Naik 2% Setelah Kesepakatan Minyak AS–Venezuela

Sektor energi lain juga mencatat pergerakan positif. Chevron menguat sekitar 2% setelah tercapai kesepakatan yang mengatur perdagangan minyak antara AS dan Venezuela. Bagi industri otomotif, stabilitas pasokan minyak mentah ikut menentukan harga bahan bakar yang berdampak pada daya beli konsumen.

Adapun Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam pernyataannya menyebut harga minyak akan turun. Ia juga menegaskan AS tidak sedang dalam perang dagang dengan Kanada. Pernyataan ini memberikan sedikit angin segar di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar.

Reporter: Rendra