Eskalasi AS-Iran Memanas, Harga Minyak Justru Terkoreksi ke Bawah Level US$96

Harga minyak mentah Brent terkoreksi ke level US$95,20 per barel menyusul meredanya eskalasi konflik AS-Iran.
Penulis: Wahyu
Kamis, 03 September 2026 | 11:20:01 WIB

KILASKINI.COM — Serangan militer terbaru yang dilancarkan AS ke Iran nyatanya tidak serta-merta membuat harga komoditas energi melesat. Data pasar menunjukkan harga minyak mentah Brent justru tergelincir 43 sen menjadi US$95,20 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 24 sen ke level US$90,77 per barel.

Padahal, konflik kedua negara yang kembali pecah ini merupakan baku tembak terbesar sejak Juli. Perang yang kini memasuki bulan ketujuh tersebut berisiko mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Tanda Mereda Jadi Pemicu Pelemahan Harga

Koreksi harga terjadi setelah muncul sinyal bahwa eskalasi terbaru mulai mereda. Sebelumnya, Brent dan WTI sempat berfluktuasi tajam dengan masing-masing menguat hingga US$2 per barel sebelum berbalik melemah.

Analis IG Tony Sycamore menilai pemulihan arus minyak akan sangat bergantung pada perkembangan konflik selanjutnya. Menurut dia, jika kondisi mereda, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menggunakan kapal yang menyamarkan identitasnya (dark ships) beserta transfer minyak antarkapal kemungkinan besar akan segera kembali normal.

Jumlah Kapal Melintas Anjlok di Tengah Ancaman Iran

Kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi masih nyata. Data awal perusahaan pelacak pelayaran Kpler pada Rabu menunjukkan hanya empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz. Angka ini jauh di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang mencapai sekitar 13 kapal per hari.

Iran mempertegas sikapnya dengan menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan. Setiap kapal yang mencoba melintasi selat tersebut terancam denda, penyitaan, atau penahanan.

Di sisi lain, AS mengklaim volume minyak yang melintasi jalur tersebut masih besar. Pada Senin, tercatat 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz yang disebut sebagai jumlah terbesar sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai.

Sikap Trump dan Dampaknya ke Pasar

Presiden AS Donald Trump menyatakan kampanye militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Pasukan AS telah menargetkan sistem radar dan rudal Iran dalam serangan yang ia sebut sangat besar.

"Kami menghancurkan seluruh peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz, sebagian untuk pertahanan, sebagian untuk menyerang," ujar Trump. "Kami siap melakukan serangan berikutnya kapan pun kami mau."

Para pelaku pasar kini mencermati apakah Iran akan melakukan serangan balasan yang dapat memicu gangguan pasokan lebih parah. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global, sehingga potensi penutupan jalur tersebut tetap menjadi ancaman utama bagi stabilitas harga energi dunia.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Wahyu