KILASKINI.COM — Peresmian fasilitas manufaktur yang dikelola PT BYD Auto Indonesia ini melibatkan 5.000 pekerja lokal sejak tahap awal. Saat beroperasi penuh, jumlah tenaga kerja disebut bisa melonjak hingga lebih dari 20.000 orang.
Lahan 126 Hektar dan Empat Proses Produksi Utama
Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 126 hektar tersebut mengusung sistem manufaktur terpadu. Liu Xueliang, Vice President BYD Co., Ltd., menegaskan pabrik ini bukan sekadar fasilitas perakitan, melainkan mencakup proses produksi yang lebih dalam.
Empat tahapan utama yang bisa dilakukan di Subang adalah:
- Stamping – pembentukan panel bodi dari lembaran logam.
- Welding – pengelasan dan perakitan rangka bodi.
- Painting – pengecatan dengan proses anti-korosi.
- Assembly – perakitan akhir hingga kendaraan siap dikirim.
M6 DM Jadi Model Pertama dengan TKDN Lebih dari 40 Persen
Menariknya, model yang keluar pertama kali dari jalur produksi Subang bukanlah mobil penumpang murni seperti yang banyak diperkirakan. BYD memilih M6 DM, varian plug-in hybrid, sebagai produk perdananya.
Keputusan ini penting karena model tersebut sudah memenuhi ambang batas Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen. Artinya, pabrik ini tidak hanya sekadar merakit, tetapi juga menyerap komponen buatan dalam negeri dalam jumlah signifikan.
Perjalanan 35 Tahun dan Fokus Penuh ke Kendaraan Listrik
Liu menjelaskan, peresmian pabrik di Indonesia merupakan bagian dari transformasi besar perusahaan yang sudah berjalan lebih dari tiga dekade. Sejak 2022, BYD mengklaim diri sebagai pabrikan pertama yang berhenti total memproduksi kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel.
Keputusan itu membuahkan hasil. Pada 2025, BYD mencatat penjualan global sebanyak 4,6 juta unit New Energy Vehicle. Hingga Agustus 2026, akumulasi penjualan mereka telah menembus 17,8 juta unit di seluruh dunia.
"Perjalanan ini sudah 35 tahun," ujar Liu dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa momen peresmian ini penting tidak hanya bagi BYD, tetapi juga bagi pemerintah Indonesia dalam mendukung percepatan transformasi kendaraan.
Dampak Ekonomi dan Harapan Pemerintah
Pemerintah menyambut baik kehadiran pabrik ini. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menilai keputusan BYD membangun fasilitas di Jawa Barat sudah tepat. Provinsi ini mencatat pertumbuhan ekonomi 5,73 persen secara year on year, salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Peresmian ini juga dinilai sebagai momentum strategis di tengah melonjaknya penjualan mobil listrik domestik. Agus melihat langkah BYD tidak berhenti pada sekadar penguasaan pasar, tetapi mulai bergerak ke penguatan komponen lokal.
"Ke depan kami berharap investasi BYD tidak berhenti sampai pabrik, tapi juga meluas ke ekosistem kendaraan listrik," ujar Agus. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah ingin efek berantai dari investasi pabrikan asal China tersebut bisa dirasakan lebih luas oleh industri komponen nasional.