Pencarian

MSCI Rebalancing Efektif 1 September, IHSG Diprediksi Mixed Terbatas

Senin, 31 Agustus 2026 • 08:24:31 WIB
MSCI Rebalancing Efektif 1 September, IHSG Diprediksi Mixed Terbatas
Investor mengamati pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia pada awal pekan pertama September 2026.

KILASKINI.COM — Pasar saham Indonesia memasuki pekan pertama September dengan sentimen beragam. Rebalancing indeks MSCI yang masa efektifnya berlaku Selasa (1/9) menjadi pusat perhatian investor, bersamaan dengan rilis sejumlah data makro domestik dan global.

Rebalancing MSCI dan Data Makro Jadi Perhatian Utama

Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, masa efektif rebalancing MSCI berpotensi memicu arus dana keluar (outflow) yang besar dari pasar saham Indonesia. Kekhawatiran itu membuat investor cenderung wait and see pada awal pekan.

"Rebalancing MSCI diperkirakan masih menjadi perhatian investor yang disebabkan masa efektif per 1 September 2026, di mana dikhawatirkan akan adanya potensi outflow yang besar," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (30/8).

Selain MSCI, pasar juga akan mencermati rilis data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 yang diperkirakan tumbuh 2,86 persen secara tahunan (yoy). PMI manufaktur diproyeksikan masih berada di zona ekspansif dengan level 50,5, meski sedikit melandai. Dari eksternal, data nonfarm payrolls (NFP) AS yang dirilis sebelum FOMC September menjadi sinyal penting arah suku bunga The Fed.

Proyeksi IHSG: Antara Tekanan dan Peluang Penguatan

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan indeks bergerak mixed cenderung melemah dengan rentang support 6.430 dan resistance 6.606. Menurutnya, pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh soal inflasi inti AS yang belum melambat menegaskan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) masih berlanjut.

"Nada hawkish Fed masih nyata, seiring dengan pernyataan Warsh terkait inflasi inti belum melambat dan mengkonfirmasi higher for longer masih berlanjut. Hal ini akan berdampak negatif seiring penurunan suku bunga yang belum akan terjadi dan kekhawatiran penurunan demand kredit dan ekspansi," kata Oktavianus.

Di sisi lain, Herditya melihat IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.230 dan resistance 6.628. Ia menilai harga emas dan minyak yang masih konsolidasi seiring menurunnya tensi geopolitik Timur Tengah memberi ruang bagi pasar untuk bernapas.

Rebound Saham INDY, VKTR, dan AMRT Menarik Dikoleksi?

Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus merekomendasikan dua saham yang ditutup menguat pekan lalu. Pertama, PT Indika Energy Tbk (INDY) yang naik 2,17 persen ke posisi 2.830 diproyeksikan menyentuh level 2.960 pada pekan ini. Kedua, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang melonjak 6,63 persen ke 965 ditargetkan naik ke 1.140.

Sementara itu, Herditya merekomendasikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang ditutup di level 1.340 pekan lalu, dengan target kenaikan ke 1.520. Ia juga menyarankan investor mencermati PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tanpa menyebut target spesifik.

Data Bursa Pekan Lalu: Perdagangan Masih Lesu

Sepanjang pekan 24-28 Agustus 2026, kinerja bursa memang belum menggembirakan. Kapitalisasi pasar turun 0,16 persen dari Rp11.449 triliun menjadi Rp11.431 triliun. Rata-rata volume transaksi harian merosot 28,33 persen menjadi 36,05 miliar lembar saham, sementara nilai transaksi rata-rata turun ke Rp15,29 triliun.

Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp482,24 miliar pada Jumat (28/8). Sepanjang tahun 2026, total aksi jual asing telah mencapai Rp70,360 triliun, menurut Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad.

Pasar kemungkinan besar baru akan bergerak lebih dinamis setelah data inflasi dan NFP keluar. Hingga saat itu, investor disarankan selektif dalam memilih saham dengan fundamental kuat.

Investasi mengandung risiko.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks