Penjualan LCGC Terus Turun, Mobil Listrik Murah Jadi Penggantinya

Penjualan LCGC Januari-September 2026 mencapai 83.997 unit, turun 11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penulis: Wahyu
Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:01:01 WIB

KILASKINI.COM — Penjualan mobil LCGC hanya mencapai 83.997 unit sepanjang Januari-September 2026, turun 11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Ketua Umum Gaikindo Putu Juli menilai gelombang mobil listrik berharga di bawah Rp 200 juta kini menggerus segmen mobil murah konvensional yang dulu jadi pintu masuk pembeli pertama.

Data wholesales Gaikindo menunjukkan penurunan LCGC bukan lagi gejala sesaat. Sepanjang Januari-September 2026, mobil murah ramah lingkungan itu hanya terdistribusi 83.997 unit dari pabrik ke dealer, atau minus 11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu melanjutkan tren yang sudah berjalan tiga tahun terakhir.

Putu Juli menyebut pergeseran teknologi sebagai pemicu utamanya. Menurut dia, pasar kini punya pilihan lain yang harganya bersaing dengan LCGC, yaitu kendaraan listrik. Pernyataan itu disampaikan Putu kepada CNBC Indonesia.

Empat Tahun Penurunan Tanpa Balik

Penurunan LCGC terjadi konsisten sejak 2023. Dari 204.705 unit pada 2023, angka itu menyusut jadi 176.766 unit pada 2024, lalu 122.686 unit pada 2025. Dengan capaian 83.997 unit sampai September 2026, sulit membayangkan segmen ini kembali ke masa jayanya dalam waktu dekat.

Puncak kejayaan LCGC terjadi pada 2016, ketika segmen ini menembus 235.171 unit berkat kehadiran model 7-seater. Saat diluncurkan pada 2012-2014, program pemerintah ini sempat menguasai 24 persen dari total penjualan mobil nasional.

Harga LCGC Kini Tembus Rp 200 Juta

Masalah kedua datang dari sisi harga. LCGC awalnya diposisikan sebagai mobil pertama dengan banderol di bawah Rp 150 juta. Kenyataannya, banyak model sekarang menembus Rp 180 juta sampai Rp 200 juta ke atas. Regulasi emisi, penambahan fitur, dan biaya produksi ikut mendorong kenaikan itu.

Konsekuensinya, label "low cost" makin pudar. Segmen ini paling terpukul karena pembelinya sangat sensitif terhadap harga dan suku bunga kredit. Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menyebut penurunan daya beli akibat inflasi dan suku bunga tinggi sebagai faktor utama.

"Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil, selain itu, kenaikan harga segmen terbesar LCGC juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen," ujar Yannes kepada detikOto.

Mobil Murah Tak Harus Bermesin Bensin

Putu menegaskan masa depan mobil murah tidak lagi identik dengan mesin pembakaran internal. Pasar otomotif Indonesia sekarang punya opsi mobil listrik dengan harga di bawah Rp 200 juta, dan itu yang dianggapnya jadi penarik pembeli baru.

"Jadi sebenarnya ini masa peralihan. Kalau kita mau mempertahankan segmen pembeli mobil pertama (new entry), teknologinya memang harus mengarah ke Electric Vehicle. Jadi mobil murah (LCGC) itu tidak harus ICE (mesin pembakaran internal), bisa saja bentuknya Hybrid atau Plug-in Hybrid, yang penting affordability-nya (keterjangkauannya) tercapai dan harganya murah," kata Putu.

Pernyataan itu memberi sinyal bahwa Gaikindo tidak melihat LCGC sebagai segmen yang perlu diselamatkan dengan insentif baru. Arah kebijakan lebih mungkin bergeser ke kendaraan elektrifikasi murah, entah hybrid atau listrik penuh, asal harganya tetap terjangkau bagi pembeli pertama.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Data 2026 baru mencakup Januari-September, belum angka setahun penuh
  • Belum ada keterangan resmi soal insentif khusus untuk menyelamatkan segmen LCGC
  • Klaim soal mobil listrik murah sebagai pengganti masih bersifat proyeksi, bukan hasil penjualan yang terverifikasi

Bagi calon pembeli mobil pertama, situasinya sekarang lebih rumit dari sekadar memilih model termurah. LCGC yang dulu jadi jawaban sudah bergeser harga, sementara opsi elektrifikasi murah mulai masuk pasar dengan hitungan biaya kepemilikan yang berbeda. Keputusan pembelian dalam satu-dua tahun ke depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat harga kendaraan listrik entry-level stabil.

Reporter: Wahyu