Harga BBM Pertamina Tak Berubah November 2026, Pertamax Turbo Rp19.600
KILASKINI.COM — PT Pertamina Patra Niaga memastikan harga BBM nonsubsidi tidak berubah pada November 2026, dengan Pertamax Turbo tetap dibanderol Rp19.600 per liter untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen seperti DKI Jakarta. Keputusan menahan harga diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. Kebijakan ini berlaku setelah penyesuaian terakhir pada 2 September 2026.
Paragraf pembuka: VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi belum dilakukan bulan ini. Pertamina menimbang sejumlah faktor sebelum mengubah harga jual di SPBU. Harga yang berlaku saat ini merujuk pada penetapan per 2 September 2026.
Harga Pertalite hingga Pertamax Turbo per Wilayah
Untuk wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor atau PBBKB 5 persen, yang mencakup DKI Jakarta dan sekitarnya, Pertamax Turbo dijual Rp19.600 per liter. Angka itu naik dari posisi sebelumnya Rp18.300 per liter. Pertamax Green 95 dipatok Rp19.150 per liter, dari sebelumnya Rp16.600 per liter.
Di segmen diesel, Dexlite kini berada di Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700. Pertamina Dex melesat ke Rp25.200 per liter, naik dari Rp21.150 per liter. Harga Pertalite sebagai BBM subsidi tetap mengikuti ketentuan pemerintah dan tidak termasuk dalam penyesuaian nonsubsidi.
Kitty menegaskan pihaknya tidak serta-merta menaikkan atau menurunkan harga mengikuti pergerakan pasar. Pertimbangan kondisi masyarakat menjadi salah satu variabel utama.
"Adapun untuk BBM nonsubsidi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat maka sampai saat ini masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya," ujar Kitty dalam keterangan resmi, Kamis (1/10/2026).
Siapa yang Paling Merasakan Dampaknya
Penetapan harga ini menyentuh langsung pemilik kendaraan pribadi, terutama pengguna mobil berbahan bakar bensin oktan tinggi dan kendaraan diesel. Pengemudi taksi online dan pelaku usaha logistik yang memakai Dexlite atau Pertamina Dex masih harus menanggung biaya operasional di level saat ini.
Bagi konsumen di luar wilayah PBBKB 5 persen, harga jual bisa berbeda karena komponen pajak daerah ikut menentukan. Pertamina menetapkan harga per zona, sehingga nominal di Sumatra, Kalimantan, atau Indonesia timur tidak selalu sama dengan Jakarta.
Di sisi lain, pengguna Pertalite tidak terpengaruh langsung karena harganya diatur pemerintah sebagai bahan bakar penugasan. Keputusan menahan harga nonsubsidi memberi kepastian biaya bagi rumah tangga dan pelaku usaha di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Mengapa Harga Ditahan
Pertamina menyebut penyesuaian harga mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari pergerakan harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, hingga daya beli masyarakat. Formula harga BBM nonsubsidi di Indonesia memang mengacu pada harga pasar dunia, tetapi penerapannya di SPBU tidak selalu identik dengan pergerakan harian.
Kebijakan menahan harga juga berkaitan dengan upaya menjaga inflasi dari sisi transported inflation. Kenaikan harga BBM nonsubsidi biasanya merembet ke biaya angkut barang dan tarif jasa, sehingga momen penetapannya menjadi perhatian pemerintah.
Harga yang berlaku per 2 September 2026 menjadi acuan terakhir sebelum November. Artinya, konsumen belum melihat perubahan baru sejak penyesuaian tersebut, meski harga minyak global bergerak dinamis.
Penutup: Bagi pemilik kendaraan, daftar harga ini menjadi patokan pengeluaran bahan bakar sepanjang November 2026. Pertamina sendiri membuka kemungkinan penyesuaian pada periode berikutnya, bergantung pada pergerakan pasar dan kondisi ekonomi masyarakat.