Danantara Investment Simpan Rp 123 T di Deposito, Mandiri Terbesar

PT Danantara Investment Management menempatkan Rp 123,03 triliun aset dalam bentuk kas dan setara kas per 30 April 2026.
Penulis: Rendra
Selasa, 03 November 2026 | 08:01:05 WIB

KILASKINI.COM — PT Danantara Investment Management (DIM) menempatkan Rp 123,03 triliun asetnya dalam bentuk kas dan setara kas yang didominasi deposito berjangka per 30 April 2026. Porsi itu setara 87,8% dari total aset DIM senilai Rp 140,02 triliun, dengan Bank Mandiri menjadi penampung terbesar. Penempatan ini menjadi mesin utama pendapatan perseroan, sekaligus menandakan dana investasi Danantara belum sepenuhnya dialirkan ke instrumen produktif.

Entitas bisnis Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), PT Danantara Investment Management (DIM), masih menyimpan mayoritas asetnya dalam instrumen likuid. Berdasarkan prospektus penerbitan Global Medium Term Note di Bursa Efek Singapura (SGX), nilai kas dan setara kas DIM tercatat Rp 123,03 triliun atau US$ 7,08 miliar.

Angka itu mencakup 87,8% dari total aset DIM yang bernilai Rp 140,02 triliun atau US$ 8,05 miliar. Posisi tersebut turun dibandingkan per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp 131,61 triliun, seiring bertahapnya penempatan dana ke alokasi investasi.

Bank Mandiri Menampung Porsi Terbesar

Sebagian besar kas DIM ditempatkan pada deposito bank anggota Himbara. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menampung Rp 56,56 triliun dalam deposito berjangka rupiah, menjadikannya penempatan terbesar.

Di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), masing-masing ditempatkan Rp 36 triliun. Deposito lainnya tersimpan di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) senilai Rp 17,1 triliun dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 6 triliun.

Selain berjangka rupiah, DIM menempatkan deposito dolar AS di BMRI dan BBNI senilai Rp 5 triliun. Penempatan valas itu ikut menyumbang keuntungan selisih kurs (gain on foreign exchange) Rp 306,03 miliar.

Bunga Deposito Dongkrak Laba Bersih

Penempatan dana pada deposito berjangka menjadi penopang utama kinerja keuangan DIM. Selama empat bulan pertama 2026, perseroan membukukan pendapatan bunga deposito Rp 2,12 triliun atau US$ 122,25 juta.

Setelah dikurangi beban pajak final atas bunga Rp 424,91 miliar, total pendapatan kotor mencapai Rp 1,09 triliun. Kinerja itu mendorong laba bersih DIM menjadi Rp 705,73 miliar pada periode yang berakhir 30 April 2026.

Hasil tersebut melesat dibandingkan laba bersih sepanjang tahun buku 2025 yang tercatat Rp 116,33 miliar. Lonjakan ini terutama berasal dari pendapatan bunga, bukan dari hasil investasi portofolio.

Dana Mulai Dialirkan ke Instrumen Investasi

Meski porsi kas masih mendominasi, laporan keuangan menunjukkan DIM mulai mengalirkan dana ke instrumen lain. Nilai aset investasi perseroan naik dari Rp 30,01 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp 16,63 triliun per 30 April 2026.

Dana itu dialokasikan pada investasi surat berharga (marketable securities) serta entitas anak atau subholding. Arah pergeseran ini menjadi indikator seberapa cepat Danantara mengubah kas menjadi aset produktif.

Dari sisi pendanaan, DIM menerima injeksi modal Rp 70 triliun dari Danantara Indonesia sebagai pemegang saham tunggal pada 2025. Selain modal disetor, perseroan menghimpun dana lewat penerbitan obligasi swasta (Patriot Bonds) secara bertahap hingga Rp 68,38 triliun per Maret 2026.

"Kami menerapkan pengelolaan keuangan yang prudent dan disiplin untuk menjaga indikator keuangan serta peringkat kredit tetap berada dalam batas ambang internal yang telah ditetapkan," demikian tertulis dalam dokumen tersebut.

Posisi kas yang tebal memang memberi bantalan likuiditas dan pendapatan bunga yang stabil. Namun bagi Danantara, ujian sesungguhnya ada pada kecepatan merealisasikan mandat investasi strategis, bukan pada besarnya dana yang parkir di deposito.

Reporter: Rendra