KILASKINI.COM — Sebanyak sembilan orang tewas setelah pesawat Learjet 60 jatuh di kawasan permukiman Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat, Minggu (1/11). Para pakar aviasi menyebut penumpukan es di sayap dan turbulensi parah akibat badai petir sebagai dua faktor yang paling berpotensi merusak kendali pesawat. Penyelidik belum memastikan penyebab pasti insiden yang terjadi saat pesawat dalam perjalanan dari Austin, Texas, menuju Bahama.
Pesawat Learjet 60 itu jatuh dari udara dan menciptakan kawah besar di dekat kendaraan yang sedang melintas. Sembilan orang di dalam pesawat dikonfirmasi tewas. Saat kejadian, wilayah sekitar lokasi jatuhnya pesawat tengah dilanda hujan deras dan badai petir.
Mengapa Badai Petir Jadi Ancaman Serius di Udara
Joseph Post, peneliti dari University of South Florida, menyebut badai petir dapat menciptakan kondisi penerbangan yang berbahaya. Risiko utamanya muncul dalam bentuk turbulensi parah dan pembentukan lapisan es pada badan pesawat.
"Bahaya tersebut berasal dari turbulensi dan lapisan es akibat badai petir. Oleh karena itu, badai petir mungkin menjadi fenomena cuaca paling berbahaya dalam dunia penerbangan," kata Post dikutip dari WFLA, Senin (2/11).
Menurut Post, penumpukan es mengganggu aliran udara di atas sayap. Kondisi itu mengurangi daya angkat dan berpotensi membuat pesawat mengalami stall atau kehilangan daya angkat sepenuhnya.
Turbulensi parah juga memberikan tekanan besar pada struktur pesawat. Dalam kondisi ekstrem, tekanan tersebut dapat memicu kegagalan struktur. Post sendiri mengingatkan penyebab pasti hilangnya kendali Learjet 60 masih belum diketahui, termasuk apakah es, turbulensi, atau faktor lain yang menjadi pemicu.
Bagaimana Es Bisa Mengubah Perilaku Pesawat
Pilot komersial sekaligus CEO Jettly, Justin Crabble, menjelaskan proses pembentukan es saat pesawat menembus awan yang mengandung tetesan air sangat dingin. Tetesan itu membeku begitu bersentuhan dengan badan pesawat.
"Ketika pesawat terbang menembus awan yang mengandung tetesan air sangat dingin, tetesan tersebut dapat membeku saat bersentuhan dengan badan pesawat. Bahkan, lapisan es yang relatif tipis sekalipun dapat memengaruhi cara pesawat terbang secara signifikan, begitu pula dengan dampak turbulensi terhadap pesawat," kata Crabble kepada LADbible, Senin (2/11).
Crabble juga menyoroti istilah severe icing, yaitu kondisi ketika es menumpuk sangat cepat sehingga sistem pencegah atau pencair es pada pesawat tidak mampu mengatasinya secara optimal. Lapisan es mengubah bentuk sayap, mengurangi daya angkat, meningkatkan hambatan udara, dan membuat pesawat lebih sulit dikendalikan.
Dalam kondisi parah, performa pesawat menurun sangat cepat, terutama jika pilot tidak bisa segera keluar dari area pembentukan es. Situasi makin rumit bila pesawat sebelumnya sudah berjuang menghadapi turbulensi.
"Salah satu kemungkinannya adalah penumpukan es menurunkan kinerja aerodinamika pesawat hingga pesawat tidak lagi mampu menghasilkan daya angkat yang cukup," tutur Crabble.
"Jika pesawat juga menghadapi turbulensi yang cukup kuat, kondisi tersebut dapat memperburuk situasi yang sebelumnya sudah sulit," tambahnya.
Rekaman Kokpit Belum Cukup untuk Menarik Kesimpulan
Crabble menilai stall aerodinamis pada ketinggian yang tidak memungkinkan pilot memulihkan kendali berdampak sangat fatal. Namun ia menegaskan rekaman audio kokpit saja tidak cukup untuk memastikan penyebab kecelakaan.
"Rekaman audio kokpit saja tidak cukup untuk memastikan penyebab kecelakaan. Penyelidik perlu memeriksa kinerja pesawat, kondisi cuaca, dan data penerbangan sebelum menarik kesimpulan," kata Crabble.
Data penerbangan yang dimaksud mencakup rekaman parameter mesin, kecepatan, ketinggian, hingga respons kendali pesawat sepanjang fase penerbangan terakhir. Pemeriksaan itu menjadi krusial karena indikasi awal bisa menyesatkan tanpa dukungan data penerbangan dan kondisi cuaca aktual di jalur penerbangan.
Detik-Detik Terakhir Sebelum Pesawat Jatuh
Para pilot sempat melaporkan adanya es pada ketinggian 10.668 meter. Setelah itu, pilot melaporkan pesawat turun dengan kecepatan 3.048 meter per menit, yang dengan cepat meningkat menjadi 6.705 meter per menit.
Administrator NASA Jared Isaacman, melalui unggahan di X, menyoroti pengalaman mengerikan yang dialami orang-orang di dalam pesawat, termasuk kopilot berusia 20 tahun.
"Dia menjalankan tugasnya, berkomunikasi dengan (pengatur lalu lintas udara) hingga saat-saat terakhir dalam situasi yang menakutkan," tulis Isaacman.
"Kemungkinan besar, jauh sebelum komunikasi-komunikasi terakhir itu dilakukan, dia sudah tahu bahwa dirinya akan meninggal."
Kecelakaan ini menambah daftar panjang insiden penerbangan yang dipicu kondisi cuaca ekstrem. Bagi operator jet pribadi dan maskapai di wilayah tropis maupun subtropis, laporan es pada ketinggian jelajah dan perubahan kecepatan turun yang drastis menjadi sinyal yang perlu dibaca lebih cepat oleh kru di kokpit.