KILASKINI.COM — Galaxy S26 FE resmi diumumkan pekan ini dengan harga mulai USD 699 — sekitar Rp 11,1 juta dengan kurs Rp 16.000. Posisinya memang sengaja dijejalkan di antara Galaxy S26 yang dibanderol USD 899 (Rp 14,4 juta) dan Galaxy A57 di USD 549 (Rp 8,8 juta). Masalahnya, setelah melihat langsung dan membandingkan spesifikasinya, celah antara harga dan value yang ditawarkan FE makin sempit — bahkan nyaris tidak masuk akal.
Masalah Utama S26 FE: Diskon S26 Bikin Posisinya Tak Masuk Akal
Ini ironi terbesar dari peluncuran S26 FE. Di waktu yang bersamaan, Samsung memberikan diskon USD 100 untuk Galaxy S26 standar. Artinya, varian S26 dengan storage 256GB bisa didapat seharga USD 799 — sama persis dengan harga Galaxy S26 FE varian 256GB.
Jadi konsumen dihadapkan pada dua pilihan: Galaxy S26 dengan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5, RAM 12GB, dan kamera telefoto 10MP, atau S26 FE dengan Exynos 2500 generasi lalu, RAM 8GB, dan telefoto 8MP — dengan harga yang identik. Menyimpan USD 100 untuk versi 128GB rasanya tidak sebanding dengan kehilangan semua keunggulan S26 standar.
Perbandingan Spesifikasi: FE Kalah di Semua Lini Penting
Kalau ditaruh berdampingan, kompromi di S26 FE terlihat jelas di tiga area: layar, kamera, dan performa. Layarnya masih AMOLED 6,7 inci 120Hz, tapi menggunakan kaca pelindung yang lebih lemah. Kamera utamanya tetap 50MP, namun lensa telefotonya turun ke 8MP dengan resolusi lebih rendah. Performanya memakai Exynos 2500 yang dirilis tahun lalu, bukan Exynos 2600 yang ada di varian internasional S26.
Baterainya justru lebih besar — 4.900 mAh dibanding 4.300 mAh di S26 — dengan pengisian 45W. Tapi itu saja tidak cukup untuk menutup kekurangan di sektor lain. Material belakangnya juga kehilangan kesan premium dari kaca matte yang dipakai S26 reguler.
Galaxy A57: Kompetitor Terberat Justru dari Keluarga Sendiri
Selisih harga S26 FE dan Galaxy A57 hanya USD 150 (sekitar Rp 2,4 juta). A57 memang jelas lebih rendah secara performa dengan Exynos 1680, dan kamera makro 5MP-nya nyaris tidak berguna. Tapi untuk pengguna yang butuh ponsel dengan layar 120Hz, baterai 5.000 mAh, dan kamera utama yang sama-sama 50MP, A57 menawarkan 80% pengalaman FE dengan harga jauh lebih bersahabat.
Samsung juga makin rajin menurunkan fitur AI dari lini flagship ke seri A. Galaxy AI dan berbagai fitur software yang dulu eksklusif di S-series sekarang sudah hadir di ponsel kelas menengah. Dengan kata lain, alasan utama membeli FE — mendapat pengalaman flagship dengan harga lebih murah — perlahan dihapus oleh seri A yang terus membaik.
Verdict: Samsung Harus Berhenti Bikin FE
Dua-duanya tidak kalah, justru itu masalahnya. S26 FE terjebak di posisi paradoks: terlalu mahal untuk disebut ponsel wajib hemat, tapi terlalu banyak kompromi untuk disebut flagship. Google, Apple, dan Nothing cukup dengan satu lini di bawah flagship. Samsung memaksakan dua, dan pada akhirnya FE yang kalah relevan.
Untuk kamu yang sedang menabung di kisaran Rp 11-14 juta, saran paling jujur: skip S26 FE. Kalau anggaran mepet, Galaxy A57 memberi 80% pengalaman dengan harga jauh lebih rendah. Kalau bisa nambah dikit, Galaxy S26 yang sedang didiskon memberi semua yang FE tawarkan — plus layar lebih baik, chip lebih kencang, dan RAM lebih lega. Lini Fan Edition sekarang hanya ada di atas kertas, dan sudah waktunya Samsung menguburnya.