Pencarian

2 Daerah di Jawa Timur Rayakan Hari Jadi September 2026, Probolinggo dan Pasuruan Punya Dasar Sejarah Berbeda

Selasa, 01 September 2026 • 19:05:31 WIB
2 Daerah di Jawa Timur Rayakan Hari Jadi September 2026, Probolinggo dan Pasuruan Punya Dasar Sejarah Berbeda
Warga melintas di depan area perayaan Hari Jadi Kota Probolinggo ke-667, September 2026.

PROBOLINGGO — Peringatan hari jadi sebuah daerah di Jawa Timur kerap menjadi momen refleksi atas perjalanan panjang pemerintahan dan kebudayaan. September 2026 menandai dua perayaan penting, yaitu Hari Jadi Kota Probolinggo ke-667 dan Kabupaten Pasuruan yang memasuki peringatan ke-1.097.

Uniknya, kedua daerah ini memiliki dasar sejarah yang sama sekali berbeda. Kota Probolinggo berpangkal dari perkembangan wilayah Banger di era Kerajaan Majapahid, sedangkan Kabupaten Pasuruan justru berakar dari perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno pada abad ke-10.

Kota Probolinggo: Dari Pedukuhan Banger Menjadi Kota Sinar

Penetapan 4 September 1359 sebagai hari jadi Kota Probolinggo merujuk pada catatan Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Wilayah ini awalnya bernama Banger, diambil dari nama sungai yang mengalir di tengah kawasan itu.

Banger tumbuh dari pedukuhan kecil di bawah Akuwu Sukodono menjadi pakuwon di perbatasan Majapahit dan Blambangan, wilayah yang berkaitan dengan konflik Perang Paregreg. Nama Banger kemudian melekat hingga era VOC mengangkat Kyai Djojolelono sebagai bupati pertama pada 1746, berpusat di Desa Kebonsari Kulon.

Kepemimpinan berganti ke Raden Tumenggung Djojonegoro yang dikenal sebagai Kanjeng Djimat. Pada 1770, ia mengganti nama Banger menjadi Probolinggo, berasal dari kata probo (sinar) dan linggo (tugu atau tanda). Masjid Jami' yang berdiri sekitar tahun yang sama menjadi saksi perkembangan wilayah tersebut.

Kabupaten Pasuruan: Prasasti Cungrang Jadi Tonggak Sejarah

Berbeda dengan Probolinggo, dasar hari jadi Kabupaten Pasuruan justru ditemukan dari peninggalan fisik berupa prasasti. Kabupaten ini memperingati 18 September 929 Masehi berdasarkan Prasasti Cungrang atau Sukci yang ditemukan di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol.

Jejak awal Pasuruan sebenarnya sudah terlacak sejak era Kerajaan Kalingga. Pada 742-755 Masehi, Raja Kiyen memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah timur yang disebut Po-Lu-Kia-Sien, ditafsirkan sebagai Pulokerto di Kecamatan Kraton saat ini.

Puncaknya terjadi pada 929 Masehi ketika Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Tanggal dalam Prasasti Cungrang kemudian dikonversikan menjadi Jumat Pahing, 18 September 929 Masehi. Nama Pasuruan sendiri baru dikenal belakangan, tercatat dalam Kitab Negarakertagama sebagai Pasoeroean, yang secara bahasa berarti tempat tumbuh tanaman suruh.

Penetapan hari jadi ini bukan tanpa proses panjang. Kabupaten Pasuruan sempat dibentuk kembali oleh pemerintah kolonial Belanda berdasarkan Staatsblad 1900 Nomor 334 yang berlaku mulai 1 Januari 1901. Baru pada 2007, melalui Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007, 18 September ditetapkan resmi sebagai hari jadi daerah dengan dasar sejarah kelahiran pada 929 Masehi.

Pemerintah daerah di kedua wilayah biasanya menggunakan momen hari jadi untuk mengevaluasi capaian pembangunan dan merancang program ke depan. Bagi warga, peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa identitas sebuah daerah dibangun dari lapisan sejarah yang panjang dan beragam.

Sumber: detik.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks