KILASKINI.COM — Angka stunting di Kota Ambon turun menjadi 271 kasus sepanjang 2026, dari sebelumnya 279 kasus pada 2025. Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta menekankan penurunan angka saja tidak cukup, dan meminta orang tua memantau gizi anak sejak masa kehamilan hingga masa pertumbuhan.
Dari total 17.457 balita yang diukur, prevalensi stunting di Kota Ambon kini berada di angka 1,58 persen. Pemerintah Kota Ambon menargetkan penurunan 3 persen setiap tahun, dan capaian ini disebut sebagai hasil kerja kolaborasi berbagai pihak.
Bagaimana Tren Stunting Ambon Empat Tahun Terakhir
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan penurunan konsisten selama empat tahun berturut-turut. Pada 2025 tercatat 279 kasus dengan prevalensi 1,60 persen, lalu turun menjadi 271 kasus pada 2026.
Rinciannya, 80 balita masuk kategori sangat pendek dan 191 balita kategori pendek. Kota Ambon juga baru-baru ini ditetapkan sebagai daerah berkinerja baik di Provinsi Maluku dalam percepatan penurunan stunting dengan nilai 74,15 dari Kementerian Dalam Negeri.
Mengapa Gizi Anak Harus Dipantau Sejak Hamil
Ely Toisutta menegaskan perhatian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi anak harus dimulai sejak masa kehamilan, dilanjutkan ketika bayi hingga masa pertumbuhan berikutnya. Edukasi soal pemberian makanan bayi dan anak menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting.
Ia menyoroti pemahaman kurva tumbuh kembang dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Menurutnya, buku itu tidak boleh hanya dianggap sebagai dokumen yang dibawa saat datang ke Posyandu atau fasilitas kesehatan.
"Pemahaman terhadap kurva pertumbuhan menjadi hal yang sangat penting. Orang tua dan kader perlu memahami bahwa pertumbuhan anak harus dipantau secara rutin," ujarnya.
Buku KIA sebagai Alat Pantau Tumbuh Kembang
Buku KIA disebut sebagai instrumen penting bagi orang tua untuk memantau kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak secara berkala. Dengan pemantauan rutin, setiap perubahan kondisi anak yang butuh perhatian bisa diketahui dan ditindaklanjuti lebih awal.
Pesan ini disampaikan Ely saat menghadiri Ceramah Kesehatan yang merupakan program kerja Persit Kartika Chandra Kirana XV/Pattimura di Aula Korem 151/Binaiya, Rabu (23/9/2026).
Gizi Baik Tidak Harus Mahal
Persoalan gizi anak, kata Ely, tidak selalu disebabkan keterbatasan makanan. Pengetahuan orang tua, kebiasaan, pola asuh, pemilihan bahan pangan, cara pengolahan, hingga frekuensi pemberian makanan turut berpengaruh.
"Kita ingin membangun kesadaran bahwa makanan yang bergizi tidak selalu harus mahal," katanya.
Keluarga bisa memanfaatkan bahan pangan di lingkungan sekitar untuk menyediakan makanan beragam sesuai kebutuhan anak. Kualitas, kebersihan, keamanan, dan kecukupan gizi tetap harus diperhatikan.
Peran Kader Posyandu dan Organisasi Perempuan
Kader Posyandu, kelompok perempuan, dan organisasi kemasyarakatan dinilai punya peran strategis karena berada dekat dengan keluarga. Pengetahuan dan kapasitas mereka perlu terus diperkuat agar mampu memberi edukasi yang benar dan mudah dipahami.
"Capaian ini merupakan kerja kolaborasi kita bersama dalam penurunan stunting di Kota Ambon," ujar Ely.
Yang Perlu Ibu Lakukan di Rumah
Pantau berat dan tinggi anak secara rutin, catat di Buku KIA, dan bawa setiap kali ke Posyandu. Kalau grafik pertumbuhan anak mendatar atau turun, segera konsultasikan ke bidan atau dokter anak.
Jangan ragu bertanya soal pemberian makan bayi dan anak, termasuk tekstur dan frekuensi yang sesuai usia. Deteksi dini jauh lebih ringan daripada mengejar perbaikan setelah anak masuk kategori pendek.
Menjaga tumbuh kembang anak adalah investasi jangka panjang bagi keluarga. Dengan pemantauan rutin dan gizi yang cukup, setiap anak di Kota Ambon punya kesempatan sama mencapai masa depan yang lebih baik.