KILASKINI.COM — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menargetkan kapasitas terpasang naik dari 727 MW menjadi 1 GW pada 2028, bagian dari upaya Indonesia menyalip Amerika Serikat sebagai produsen panas bumi terbesar dunia pada 2030. Produksi panas bumi nasional saat ini berada di peringkat kedua dunia, dengan potensi sumber daya yang menurut perusahaan sudah tidak lagi menjadi kendala.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyatakan produksi panas bumi Indonesia pada 2025 sudah menempati posisi kedua terbesar di dunia. Menurut dia, peluang menyalip AS terbuka lebar karena potensi sumber daya alamnya sudah tersedia.
"Pencapaian kita di tahun 2025 kita nomor 2 di dunia dari sisi produksinya. Nah ini kita ke depan dengan dukungan pemerintah kita ingin menuju nomor 1 di dunia. Saat ini Indonesia kita nomor 2 di dunia setelah Amerika Serikat. Jadi untuk menuju sana apakah bisa? Ya bisa, potensinya sudah ada, tidak ada isu terkait dengan resource potential sudah banyak," ujar Ahmad dalam Media Briefing PGE di Jakarta, dikutip Jumat (6/11/2026).
Peta Jalan Kapasitas Menuju 3 GW
Perusahaan menetapkan tahapan pengembangan yang terukur. Dari 727 MW saat ini, kapasitas terpasang ditargetkan menyentuh 1 GW pada 2028, naik lagi menjadi 1,8 GW pada 2034, dan berujung pada 3 GW.
"PGE punya target tahun 2028 kita menjadi 1 GW dari 727 MW saat ini, kemudian di tahun 2034 kita akan menjadi 1,8 GW. Nah itu target kita, dan pemerintah sendiri memiliki target tahun 2030 menjadi nomor 1 di dunia," kata Ahmad.
Dukungan regulasi datang lewat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang mengalokasikan porsi 5,2 GW untuk energi panas bumi. Dari kuota itu, PGE berpotensi menggarap hingga 3,2 GW — angka yang sejalan dengan target puncak perseroan.
Tarif dan Kepastian Investasi Jadi Kunci
Persoalan klasik pengembangan panas bumi adalah iklim investasi, terutama soal tarif. PGE bersama pemerintah masih membahas penyempurnaan aturan, termasuk usulan