Pencarian

Subsidi LPG Tembus Rp100 Triliun Akibat Lonjakan ICP September 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 • 06:41:02 WIB
Subsidi LPG Tembus Rp100 Triliun Akibat Lonjakan ICP September 2026
Menteri Bahlil Lahadalia menyampaikan subsidi LPG negara menembus sekitar Rp100 triliun akibat lonjakan ICP dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat.

KILASKINI.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan subsidi LPG negara menembus sekitar Rp100 triliun akibat lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang terdampak gejolak geopolitik. Angka itu naik dari posisi Rp87 triliun saat ICP masih 70 dolar AS per barel. Pemerintah menyiapkan CNG sebagai alternatif untuk menekan beban subsidi.

"Saat ICP-nya masih di 70 dolar AS per barel, itu subsidi kita mencapai Rp87 triliun. Tetapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka 90 sampai 100 dolar AS per barel, subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun," ucap Bahlil dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10).

Bahlil yang juga merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut lonjakan terjadi akibat ketidakpastian geopolitik. Ia merujuk perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, perang Ukraina melawan Rusia, serta perang yang melebar ke Arab Saudi.

Subsidi LPG Naik, Harga ICP September 2026 Melonjak

Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP pada September 2026 sebesar 112,81 dolar AS per barel. Angka itu naik 23,38 dolar AS dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level 89,43 dolar AS per barel.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026.

"Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi 112,81 dolar AS per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman.

Penyebab: Konflik Timur Tengah hingga OPEC+

Laode menjelaskan eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Selat itu jalur vital ekspor minyak dunia.

Penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.

Kenaikan harga terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional, bukan hanya pada minyak mentah Indonesia.

CNG Disiapkan sebagai Substitusi Impor LPG

Pemerintah menyiapkan compressed natural gas (CNG) atau gas alam dikompresi sebagai alternatif LPG. Bahlil menyatakan CNG bukan sumber energi baru karena sejumlah restoran dan hotel sudah memakainya.

"Dan harganya lebih murah 30 sampai 40 persen. Itu memakai gasnya yang jenis C1, C2. Itu melimpah di negara kita," ucap Bahlil.

Menurut Bahlil, CNG dapat menjadi substitusi impor LPG. Pekerjaan rumah pemerintah saat ini adalah memastikan kelancaran uji coba tabung 3 kilogram untuk CNG.

"Ini sebagai strategi untuk bagaimana kita melahirkan substitusi impor, namun tabungnya yang 3 kg ini lagi diuji. Kalau tabung yang 12 kg itu sudah dipakai," kata Bahlil.

Dampak bagi Masyarakat

Lonjakan subsidi LPG berarti beban anggaran negara membengkak. Bagi rumah tangga pengguna LPG 3 kilogram, besaran subsidi dan harga eceran tetap bergantung pada keputusan pemerintah berikutnya.

Bahlil menegaskan hampir semua negara kini berupaya mengamankan sektor energi dari dalam negeri masing-masing. "Ini tantangan kita," ucapnya.

Informasi resmi soal besaran subsidi, harga LPG 3 kilogram, dan jadwal uji coba tabung CNG dapat diakses melalui kanal Kementerian ESDM. Masyarakat diimbau tidak mempercayai informasi harga atau pendaftaran bantuan dari sumber tidak resmi.

Sumber: ambon.antaranews.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks