KKN UIN Walisongo Latih Ibu PKK Jatirunggo Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi
UNGARAN — Limbah minyak goreng bekas yang selama ini dibuang begitu saja kini bisa disulap menjadi produk bernilai jual. Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 17 memberikan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah kepada ibu-ibu PKK Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, di Balai Desa setempat pada Jumat (14/8).
Kegiatan ini bertujuan mengenalkan cara sederhana mengelola limbah rumah tangga sekaligus membuka peluang keterampilan baru bagi warga. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mempraktikkan langsung seluruh tahapan pembuatan lilin aromaterapi.
Arang Aktif untuk Hilangkan Bau Tengik
Aprilia Sabrina Kholisawati, anggota Divisi Kesehatan Lingkungan KKN UIN Walisongo, menjelaskan bahwa proses pembuatan dimulai dengan merendam minyak jelantah menggunakan arang aktif selama satu hari. Perendaman ini berfungsi mengurangi bau tengik sekaligus menjernihkan warna minyak.
Karena proses perendaman membutuhkan waktu, mahasiswa telah menyiapkan minyak jelantah yang sudah melalui tahap penyaringan sehingga bisa langsung digunakan saat praktik. Setelah itu, minyak dipanaskan dan dicampur dengan bahan pengeras serta minyak esensial sesuai takaran.
Campuran tersebut kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dilengkapi benang katun sebagai sumbu. Bahan lain yang diperkenalkan antara lain pewarna dan arang aktif.
“Pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi ini tidak hanya mengurangi pencemaran air dan tanah, tetapi juga memiliki nilai jual yang berpotensi menambah penghasilan keluarga,” terang Aprilia.
Antusiasme Peserta Saat Praktik Langsung
Ketua PKK Desa Jatirunggo, Nurhayati, menyambut baik inisiatif mahasiswa KKN tersebut. Ia berharap keterampilan yang diberikan dapat diterapkan anggota PKK dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Harapannya, ibu-ibu PKK dapat menyerap ilmu yang diberikan sehingga bisa memanfaatkan minyak bekas pakai menjadi lilin aromaterapi bernilai guna, baik untuk kebutuhan rumah tangga sendiri maupun dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Nurhayati.
Antusiasme peserta terlihat ketika ibu-ibu PKK mencoba langsung setiap tahapan pengolahan. Salah satu peserta, Sri Rahayu, menilai pelatihan ini memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat bagi anggota PKK.
“Kegiatan ini sangat bagus karena setiap rumah tangga pasti menghasilkan sisa minyak goreng, jadi sekarang bisa kami manfaatkan. Penjelasan dari adik-adik mahasiswa sangat jelas. Harapannya keterampilan ini bisa disebarluaskan ke masyarakat,” ungkap Sri.
Dari Limbah Rumah Tangga Menjadi Produk Kreatif
Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam mendorong masyarakat mengubah cara pandang terhadap limbah. Minyak jelantah yang kerap dianggap barang buangan ternyata masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang lebih berguna.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 17 berharap keterampilan ini dapat diterapkan masyarakat secara berkelanjutan. Selain membantu mengurangi limbah rumah tangga, keterampilan tersebut diharapkan menjadi peluang mengembangkan produk kreatif berbasis potensi lokal di Desa Jatirunggo.