BANGLI — Kekeringan yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Kintamani memaksa warga mengeluarkan kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Di Desa Siakin, warga harus merogoh Rp 100 ribu per kubik untuk membeli air, sementara di Desa Bonyoh, harga satu tangki berkapasitas 5.000 liter mencapai Rp 230 ribu.
Perbekel Siakin, I Gede Disi, mengungkapkan penurunan debit mata air petirtan yang menjadi sumber utama warga sudah terasa sejak sebulan terakhir. Akibatnya, air yang mengalir ke bak penampungan desa terus menyusut dan tak mampu mencukupi kebutuhan warga yang jumlahnya tidak sedikit.
"Kalau keluarga dengan lima anggota keluarga, satu kubik air hanya cukup untuk sekitar satu minggu," ungkap Disi, belum lama ini.
Warga Bonyoh Andalkan Air Hujan, Kini Habis di Bulan Kemarau
Kondisi serupa dialami warga Desa Bonyoh yang selama ini menggantungkan kebutuhan sehari-hari dan pertanian pada tampungan air hujan. Perbekel Desa Bonyoh, I Ketut Putra Indrawan, mengatakan cadangan air tersebut kini sudah habis, memaksa warga membeli air tangki sejak dua bulan terakhir.
Putra Indrawan menjelaskan, untuk pemakaian rumah tangga, satu tangki air biasanya cukup untuk dua minggu. Namun bagi petani dengan lahan luas, satu tangki hanya bertahan sekitar lima hari saja.
"Sumber air sebenarnya ada, sumber air kayoan, tetapi (debitnya) tidak seberapa," ujar Putra Indrawan, Jumat (21/8) lalu.
BPBD Tunggu Permohonan Resmi dari Desa
Di tengah keluhan warga, BPBD Kabupaten Bangli menegaskan penyaluran bantuan air bersih hanya akan dilakukan jika ada permohonan resmi dari pemerintah desa maupun masyarakat. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD dan Damkar Bangli, I Ketut Agus Sutapa, menyatakan pihaknya tidak bisa bergerak tanpa adanya laporan masuk.
"Kalau tidak mengajukan, kami tidak tahu," tegas Agus, Minggu (23/8).
Meski begitu, BPBD memastikan satu unit armada yang dimiliki siap mendistribusikan air begitu ada laporan. Pasokan air bersih sendiri mengandalkan kerja sama gratis dengan Perumda Tirta Danu Arta (PDAM) Bangli dan perusahaan air minum Sangsang, tanpa alokasi anggaran khusus untuk pembelian air.
Kemarau Panjang Bikin Biaya Hidup dan Pertanian Membengkak
Dalam periode kemarau panjang, warga Desa Bonyoh biasanya harus membeli air tangki hingga rentang waktu enam bulan. Kondisi ini membuat biaya hidup dan operasional pertanian warga membengkak, terutama bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari lahan pertanian.
Apabila permintaan bantuan air nantinya melampaui kapasitas pendistribusian satu armada, BPBD Bangli akan berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Bali untuk memastikan kebutuhan warga tetap terpenuhi.