16 Daerah Irigasi di Kaltim Diusulkan Dibangun Sumur Bor, Antisipasi Debit Sungai Menyusut saat Kemarau
SAMARINDA — Ancaman kekeringan lahan pertanian di Kalimantan Timur mulai diantisipasi sejak dini. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV menyiapkan skema sumber air alternatif dengan mengusulkan pembangunan sumur air tanah di 16 daerah irigasi yang tersebar di provinsi ini.
Usulan tersebut diajukan menyusul mulai menyusutnya debit sejumlah sungai yang menjadi andalan utama pengairan sawah. Kondisi ini diperkirakan bakal memburuk jika puncak musim kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Prioritas Berdasarkan Kebutuhan, Bukan Otomatis Dibangun Semua
Kepala BWS Kalimantan IV Andri R Wibowo mengingatkan agar usulan ini tidak ditafsirkan sebagai kepastian pembangunan di keenam belas lokasi tersebut. Menurutnya, realisasi proyek akan sangat bergantung pada pagu anggaran yang disetujui pemerintah pusat.
"Tapi tolong jangan dibilang ini akan dikerjakan 16-16-nya. Kita belum tahu," ujar Andri, Minggu (23/8/2026).
Jika anggaran yang turun terbatas, BWS Kalimantan IV akan melakukan pemeringkatan berdasarkan urgensi dan skala prioritas. Beberapa wilayah yang masuk dalam pembahasan awal antara lain Serayu, Tanah Merah, dan Makroman.
Sumur Bor Jadi Jaring Pengaman Saat Sungai Kritis
Keberadaan sumur air tanah dinilai krusial untuk menjaga produktivitas pertanian di saat pasokan air permukaan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan. Sistem ini menjadi cadangan utama ketika pengambilan air dari sungai sudah tidak memungkinkan.
"Kalau yang masih ada sungai kan kita bisa ambil dari sungai. Kalau tidak ada itu yang bahaya," kata Andri.
Selain mengusulkan pembangunan infrastruktur, BWS Kalimantan IV saat ini gencar melakukan pemantauan kondisi sumber daya air. Sejumlah titik yang menjadi perhatian serius meliputi Sepaku, Sebakung, Serayu, dan Tanah Merah. Pemantauan ini bertujuan untuk memetakan penurunan debit secara berkala dan mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap kebutuhan masyarakat.
Warga Diminta Dahulukan Kebutuhan Minum
Di tengah ketidakpastian kapan musim hujan tiba, masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air. Langkah kecil ini dinilai signifikan untuk menahan laju penurunan volume air di sumber-sumber utama.
Andri menegaskan, penggunaan air harus difokuskan pada kebutuhan dasar terlebih dahulu. "Yang penting buat minum dulu. Jadi kita harus hemat air," pungkasnya.