Startup Robot Data XDOF Dikabarkan Kunci Pendanaan Seri B, Valuasi Capai US$ 1,2 Miliar

Startup robotika XDOF dikabarkan mengunci pendanaan Seri B dengan valuasi mencapai US$ 1,2 miliar.
Penulis: Farah
Sabtu, 05 September 2026 | 06:41:01 WIB

KILASKINI.COM — Kabar ini muncul hanya beberapa pekan setelah XDOF mengumumkan pendanaan Seri A senilai US$ 70 juta pada Juni lalu. Kala itu, putaran tersebut diikuti oleh Thrive Capital, Andreessen Horowitz, Lux, dan Spark Capital. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui langsung jalannya negosiasi, XDOF sebenarnya tidak berencana menggalang dana lagi dalam waktu dekat. Namun, laju pertumbuhan bisnis yang pesat membuat para venture capitalist justru mendekati perusahaan lebih dulu.

Hingga berita ini diturunkan, nilai total dana yang dihimpun serta rincian apakah valuasi tersebut sudah termasuk suntikan modal baru belum dapat dikonfirmasi. TechCrunch melaporkan bahwa ketentuan akhir kesepakatan masih bisa berubah. Baik XDOF maupun 8VC belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi.

Bukan Sekadar Label Data, Ini Pabrik Data untuk Robot Fisik

XDOF didirikan pada 2024 oleh dua peneliti UC Berkeley, Philipp Wu (CEO) dan Fred Shentu (CTO). Perusahaan ini membangun pipa data, perangkat koleksi, dan sistem anotasi yang sulit dibuat sendiri oleh laboratorium AI dan perusahaan robotika. Dengan kata lain, XDOF bertindak sebagai rantai pasok data outsourcing untuk industri robotika—sebuah peran yang kerap disamakan investor dengan posisi Scale AI atau Mercor di ranah AI tekstual.

Perbandingan itu muncul karena robot fisik tidak memiliki padanan "internet" sebagai sumber data mentah. Model bahasa besar (LLM) bisa dilatih dengan menyerap hampir seluruh isi web, tetapi robot yang beroperasi di dunia nyata butuh data gerakan dan interaksi spesifik yang tidak tersedia secara bebas. Kelangkaan data inilah yang menjadi hambatan terbesar dalam membangun robot serbaguna (general-purpose robots).

Metode Koleksi Data: Dari Teleoperasi Jarak Jauh hingga Sensor Tubuh

Untuk menjembatani kekosongan tersebut, XDOF menggabungkan dua pendekatan. Pertama, teleoperasi robot jarak jauh yang memungkinkan operator manusia mengendalikan lengan robot dari lokasi berbeda. Kedua, operator dengan sensor yang dipasang di tubuh (egocentric operator) untuk merekam aktivitas harian seperti melipat pakaian atau meratakan kardus.

Metode ini berakar dari proyek riset bernama GELLO, sebuah sistem teleoperasi berbiaya rendah yang dikembangkan Wu dan Shentu saat masih menjadi mahasiswa doktoral. Sistem tersebut memungkinkan manusia mengendalikan lengan robot untuk menghasilkan data pelatihan, dan menjadi dasar bagi sebuah makalah berpengaruh di bidang robotika.

Perusahaan berencana merekrut dan melatih tim kolektor data di berbagai negara, termasuk operator teleoperasi dan operator berkamera tubuh. XDOF juga bermitra dengan laboratorium riset AI UC Berkeley untuk merilis ABC, sebuah kumpulan data pelatihan robot berkualitas tinggi yang diklaim sebagai yang terbesar yang pernah dirakit.

20 Pelanggan Aktif dan Peta Persaingan yang Kian Padat

XDOF sebelumnya mengonfirmasi telah bekerja sama dengan 20 pelanggan, termasuk sejumlah laboratorium AI terdepan (frontier AI labs). Pertumbuhan pendapatan tahunan yang mendekati US$ 50 juta dalam waktu singkat menunjukkan bahwa kebutuhan akan data fisik ini nyata dan mendesak.

Persaingan di ruang ini mulai memanas. Mecka AI disebut-sebut sebagai pemain lain yang mencoba mengumpulkan data dunia nyata untuk pelatihan robot. Platform data manusia seperti Scale AI dan Micro1 juga dikabarkan mulai melebarkan fokus mereka melampaui data LLM ke ranah robotika fisik. Artinya, XDOF tidak sendirian dalam perlombaan menjadi tulang punggung data bagi industri robotika global.

Jika kesepakatan Seri B ini final, XDOF akan menjadi salah satu startup dengan valuasi tertinggi di sektor data robotika, hanya berselang beberapa bulan setelah keluar dari mode siluman. Langkah ini juga menegaskan bahwa perlombaan menuju robot serbaguna tidak lagi semata-mata soal kecerdasan algoritma, melainkan juga soal siapa yang paling cepat menguasai rantai pasok data dunia nyata.

Reporter: Farah