Kelas Menengah RI Susut Jadi 47,85 Juta, Dradjad Soroti Transformasi Kerja
KILASKINI.COM — Jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun dari 57 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024, atau sekitar 17% dari total populasi. Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad H. Wibowo menilai penyusutan hampir 10 juta orang itu tidak semata soal daya beli, melainkan cermin perubahan struktur lapangan kerja dan pola konsumsi.
Dradjad menegaskan penyusutan kelompok ini perlu dibaca lebih hati-hati. Pola konsumsi dan sumber penghasilan masyarakat tengah berubah seiring transformasi ekonomi, bukan sekadar melemahnya kemampuan belanja.
Disrupsi Teknologi hingga Geopolitik Ubah Peta Lapangan Kerja
Menurut Dradjad, disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, dan perubahan kondisi geopolitik ikut mengubah struktur lapangan pekerjaan. Sejumlah sektor tradisional menghadapi tekanan, sementara lapangan kerja di sektor jasa justru berkembang.
"Ini memang ada transformasi ekonomi. Ada disrupsi teknologi, ada AI, ada geopolitik," ujar Dradjad dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (5/11/2026).
Perubahan itu memaksa sebagian pekerja beradaptasi dengan jenis pekerjaan dan pola pendapatan yang berbeda. Sektor tekstil dan alas kaki menghadapi tekanan, sedangkan telekomunikasi, transportasi, hotel, dan restoran menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi.
Dradjad juga menyoroti kemungkinan sumber pendapatan masyarakat yang belum sepenuhnya tercermin dalam pengukuran statistik. Perpindahan pekerjaan ke sektor informal maupun aktivitas ekonomi baru menjadi tantangan tersendiri dalam membaca kondisi kelas menengah.
Belanja Bergeser, Bukan Hilang
Pola konsumsi masyarakat turut mengalami pergeseran. Konsumsi makanan dan minuman, alas kaki, serta tekstil masih tumbuh di kisaran 3%-4%. Sementara itu, konsumsi pada sektor telekomunikasi, transportasi, hotel, dan restoran tumbuh sekitar 6%-7%.
Perubahan perilaku belanja tidak selalu berarti masyarakat berhenti mengonsumsi. Masyarakat cenderung membeli dalam jumlah lebih kecil dan semakin banyak memanfaatkan kanal belanja daring.
"Jadi bukan berarti daya beli itu hilang, tetapi ada pergeseran," kata Dradjad mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat.
Kontribusi Kelas Menengah ke Konsumsi Rumah Tangga
Dradjad mengingatkan kondisi kelas menengah perlu menjadi perhatian pemerintah karena kontribusinya besar terhadap konsumsi rumah tangga dan perekonomian nasional. Sekitar dua pertiga penduduk Indonesia berada dalam kelompok kelas menengah dan aspiring middle class.
Kelompok tersebut menyumbang lebih dari 80% konsumsi rumah tangga. Karena itu, perubahan jumlah maupun kondisi ekonomi kelompok ini berpotensi memengaruhi laju konsumsi domestik yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Insentif Pajak hingga Subsidi KPR Jadi Bantalan
Pemerintah menyiapkan sejumlah program agar daya beli tetap terjaga sekaligus memastikan akses terhadap pekerjaan dan keterampilan yang sesuai kebutuhan ekonomi baru. Program magang disiapkan bagi 150 ribu peserta dan pelatihan vokasi untuk 300 ribu orang pada 2027.
Insentif pajak penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah diberikan bagi pekerja bergaji di bawah Rp10 juta. Program itu saat ini telah menjangkau sekitar 7,5 juta pekerja dan direncanakan diperluas ke seluruh sektor pada 2027.
Pemerintah juga memberikan potongan iuran jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian sebesar 50%. Insentif lain berupa PPN ditanggung pemerintah untuk pembelian rumah hingga Rp2 miliar serta subsidi bunga kredit pemilikan rumah sebesar 6% untuk rumah pertama dengan harga hingga Rp500 juta.
Penguatan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja baru dinilai penting agar masyarakat dapat mengikuti perubahan struktur ekonomi. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif diharapkan menjadi sumber pekerjaan baru.
"Jadi kita harus melihat bagaimana transformasi ini terjadi, dan bagaimana tenaga kerja kita bisa menyesuaikan diri," ujarnya.