KILASKINI.COM — Rimac menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara terbarunya bersama CNBC. Menurutnya, elektrifikasi akan mendominasi kendaraan arus utama. Namun, pembeli supercar kelas atas memiliki preferensi yang berbeda.
"Untuk mobil normal, orang normal, sebagian besar [mobil masa depan] akan listrik," ujar Rimac kepada CNBC. Ia menambahkan, "segmen atas, seperti mobil sport dan di atasnya, akan tetap bertahan dengan mesin pembakaran untuk waktu yang sangat lama, persis seperti jam tangan."
Analogi Jam Tangan Swiss dan Pasar Mobil Listrik Arus Utama
Rimac membandingkan kondisi ini dengan industri jam tangan mewah. "Hanya sekitar lima persen jam tangan dibuat di Swiss, tapi di sanalah sembilan puluh persen keuntungan berada. Apple Watch atau smartwatch apa pun bisa melakukan lebih banyak hal. Tapi tidak ada yang mau membayar USD 200.000 untuk itu," jelasnya.
Kendaraan listrik memang semakin terjangkau dan populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di Eropa dan Asia Timur. Namun, mobil komuter kompak ini sangat jauh berbeda dari Nevera yang menggunakan struktur monocoque serat karbon. Ironi ini tidak luput dari perhatian Rimac.
Kontradiksi di Lini Produksi: Nevera dan Mesin V-16 Tourbillon
Perjalanan karier Rimac memang penuh kejutan. Ia dikenal karena membuktikan bahwa mobil listrik bisa menyamai atau mengalahkan supercar tercepat di dunia. Kini, ia justru memimpin Bugatti, pabrikan yang identik dengan mesin bertenaga besar.
"Ini agak ironis bahwa saya sekarang membuat mesin pembakaran terbesar di dunia," kata Rimac tentang perannya di Bugatti yang sedang mengembangkan mesin V-16 8,3 liter untuk Tourbillon. "Anda punya situasi gila di fasilitas kami di Kroasia. Di lini produksi yang sama, mobil listrik terkuat di dunia dibuat tepat di sebelah mesin pembakaran terbesar di dunia. Hidup memang aneh kadang-kadang."
Pengalaman Analog Jadi Mata Uang Baru di Segmen Atas
Pandangan Rimac tentang pengalaman analog dan pasar barang mewah terbukti benar. Porsche dan Ferrari mulai menghadirkan kembali transmisi manual. Banyak pabrikan berperforma tinggi justru mundur dari kendaraan listrik dan kembali fokus pada mesin V-8 serta mesin pembakaran lainnya.
"Anda bisa mendapatkan mobil yang lebih cepat daripada mobil performa mana pun dari 10 tahun lalu dengan harga sekitar USD 50.000 dari China," ungkap Rimac. "Performa benar-benar menjadi hal sekunder. Ini lebih tentang apa yang saya sebut perayaan keterampilan manusia. Ketika Anda melihat mobil-mobil ini, Anda melihat jumlah kecerdikan, seni, dan keindahan. Mobil adalah objek paling kompleks yang bisa Anda beli. Ini seni, tapi seni yang harus melaju 250 mil per jam, aman, punya downforce, selamat dalam uji tabrak, bisa jalan di salju dan panas ekstrem, dan semua hal itu."
Pendekatan ini terlihat jelas di Monterey Car Week tahun ini. Model seperti Bugatti Destrier, Gordon Murray Special Vehicles S1, dan Brabus Bodo Cabriolet lebih dekat dengan karya seni dibanding sekadar mobil yang bisa berjalan. Keduanya juga fokus pada hal yang lebih dari sekadar tenaga kuda. Koenigsegg dan McLaren juga memperkenalkan versi terbaru dari perpindahan gigi manual analog pada model-model anyar mereka. Di level tertinggi dunia otomotif, kebaruan dan pengalaman langsung menjadi mata uang modern pilihan.