SURABAYA — Krisis kekeringan ekstrem melanda 24 kabupaten/kota di wilayah Jawa Timur sepanjang musim kemarau 2026. Situasi tersebut memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) luas yang hingga kini telah menghanguskan sedikitnya 3.834,35 hektare lahan di berbagai titik.
Menanggapi dampak kebakaran dan krisis air yang terus meluas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memutuskan untuk segera menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Teknologi pembuat hujan buatan ini ditujukan untuk membasahi wilayah daratan yang dilanda kekeringan ekstrem sekaligus memadamkan titik api.
Kendala Pembentukan Awan Hujan Sejak Juli
Rencana penerapan teknologi modifikasi cuaca sebetulnya sudah dijadwalkan oleh pemerintah sejak Juli lalu. Namun, eksekusi di lapangan sempat tertunda cukup lama karena minimnya potensi bibit awan hujan di atmosfer Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan koordinasi lintas pihak kini telah dimatangkan seiring mulai terdeteksinya pergerakan massa awan menuju kawasan daratan.
"Beberapa hari lalu kita mendapatkan informasi kemungkinan sudah ada awan yang bergerak, jadi bisa dilakukan OMC, maka awan yang masuk ke daratan itu bisa turun menjadi hujan," terang Khofifah, Minggu (06/09/2026).
Selain mengandalkan rekayasa cuaca dan operasi water bombing atau pemadaman udara, Khofifah mengimbau masyarakat di berbagai daerah untuk menggelar salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan.
Penyaluran Air Bersih Sasar Permukiman Terisolasi
Di samping fokus menekan lonjakan karhutla, penanganan darurat kekeringan juga diprioritaskan pada pemenuhan konsumsi harian warga. Pemprov Jatim bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus menyalurkan bantuan pasokan air bersih langsung ke lapangan.
Armada tangki air diprioritaskan menyasar kawasan permukiman yang mengalami kelangkaan sumber air akibat kemarau panjang. Droping air bersih juga diarahkan ke kantong-kantong permukiman warga yang lokasinya terisolasi dari jaringan distribusi air perpipaan.