KILASKINI.COM — Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa jam setelah laporan suara ledakan menggema di Pulau Kharg dan Kota Jask. Dua dentuman terdengar di sekitar pulau, namun saksi tidak melihat tanda-tanda asap atau kebakaran. Satu ledakan lain juga dilaporkan terdengar di wilayah selatan Jask.
Pejabat setempat memastikan seluruh kru kapal tanker berhasil dievakuasi dengan selamat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari militer AS mengenai operasi tersebut.
Eskalasi di Jalur Minyak Dunia
Serangan ini menjadi babak terbaru dari rentetan aksi balas-membalas antara Washington dan Teheran yang berpusat pada Selat Hormuz. Kawasan ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya, menjadikannya titik paling sensitif bagi pasar energi global.
Yang menarik, insiden ini terjadi meski kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu. Kesepakatan itu sejatinya merencanakan pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut untuk menjamin kelancaran distribusi minyak internasional.
Kronologi Konflik yang Memanas
Ketegangan sebenarnya sudah berlangsung berbulan-bulan. Sebelum serangan Selasa kemarin, militer AS menyerang tiga kapal tanker di Teluk Persia dan sekitarnya. Akibatnya, kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat difungsikan lagi.
Teheran merespons dengan menyerang kapal perang AS, termasuk satu kapal induk dan satu kapal perusak. Iran juga dilaporkan berhasil menembak jatuh drone MQ-1 milik AS di Selat Hormuz.
Menteri luar negeri Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa perang ekonomi yang dilancarkan AS akan berdampak luas, termasuk menyeret negara-negara Teluk lainnya ikut terkena imbas.
Ancaman bagi Harga Minyak Global
Analis energi memandang eskalasi ini berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia. Setiap gangguan di Selat Hormuz hampir selalu memicu gejolak harga, mengingat tidak ada jalur alternatif yang mampu menggantikan kapasitasnya dalam waktu singkat.
Belum ada indikasi apakah AS akan melancarkan serangan lanjutan atau justru menarik diri untuk meredakan situasi. Yang jelas, nota kesepahaman Juni yang sempat memberi harapan normalisasi kini berada di ujung tanduk.
Bagi Iran, serangan di dekat Pulau Kharg memiliki makna simbolis kuat. Pulau tersebut bukan sekadar lokasi geografis, melainkan jantung ekspor minyak Iran yang menyumbang sebagian besar pendapatan negara. Gangguan di titik ini berarti tekanan langsung pada perekonomian Teheran yang sudah tercekik sanksi internasional.