KILASKINI.COM — Pelemahan IHSG terjadi di tengah sepinya perdagangan global karena bursa Amerika Serikat libur pada perayaan Labor Day. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih Rp590,18 miliar di pasar reguler, atau Rp678,54 miliar jika dihitung dari seluruh pasar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, enam sektor berakhir di zona merah. Sektor keuangan menjadi pemberat utama dengan koreksi 0,76%, sementara sektor industri menjadi penopang dengan penguatan 1,25%.
Bank Mandiri Tebar Dividen Interim Rp66 per Saham
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengumumkan pembagian dividen tunai interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp66 per saham. Dengan jumlah saham beredar sekitar 93,33 miliar lembar, total dana yang disiapkan mencapai Rp6,16 triliun.
Angka tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) 20,26% dari laba bersih perseroan pada semester I 2026. Berdasarkan harga saham BMRI yang ditutup di level Rp4.390 per saham pada Senin (7/9/2026), yield dividen yang ditawarkan sekitar 1,50%.
Jadwal pencatatan kepemilikan saham (cum date) untuk pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 15 September 2026. Adapun pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 2 Oktober 2026.
Lahan Data Center Jadi Mesin Pendorong Penjualan DMAS
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatat prapenjualan Rp1,15 triliun hingga semester I 2026, atau sudah mencapai 55% dari target tahunan Rp2,08 triliun. Pengembang kawasan industri GIIC/Deltamas ini masih perlu membukukan sekitar Rp930 miliar pada paruh kedua tahun ini untuk memenuhi target.
Permintaan lahan industri pada periode tersebut mencapai 85 hektare, dengan porsi terbesar—sekitar 75% atau 64 hektare—berasal dari pengembang data center. Tingginya minat ini didukung infrastruktur kawasan yang memiliki pasokan listrik premium hingga 1.000 MVA, jaringan fiber optic redundan, serta sistem pengolahan air daur ulang.
Menariknya, jumlah permintaan tersebut telah melampaui sisa lahan industri yang tersedia, yakni hanya sekitar 25 hektare. Alhasil, DMAS mempertimbangkan konversi sebagian lahan komersial dan residensial untuk memenuhi kebutuhan pengembang data center. Per 30 Juni 2026, perusahaan masih memiliki land bank sekitar 581 hektare, terdiri dari 357 hektare lahan komersial, 164 hektare residensial, dan 60 hektare lahan industri.
MPXL Siap Garap Angkutan Batu Bara pada 2027
PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) menyiapkan ekspansi baru ke bisnis angkutan batu bara menggunakan kapal tongkang. Rencana ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan menjadi bagian dari pengembangan usaha perseroan yang tengah merintis perdagangan batu bara melalui PT Tambang Raya Sejahtera.
Kinerja keuangan perseroan menunjukkan perbaikan. Pada semester I 2026, MPXL membukukan pendapatan Rp73,12 miliar, naik 28,80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp56,77 miliar. Segmen jasa ekspedisi menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp50,98 miliar, tumbuh 54,50% secara tahunan.
Realisasi bisnis MPXL hingga saat ini telah mencapai sekitar 85% dari target 2026. Namun, aktivitas perdagangan batu bara masih menghadapi tantangan berupa pembatasan RKAB di sejumlah tambang Sumatera Selatan dan Kalimantan. Jika ekspansi angkutan tongkang berjalan mulus, perseroan akan memiliki rantai bisnis lengkap dari perdagangan hingga transportasi batu bara.
Adapun saham-saham yang bergerak menguat dan menjadi pendorong perdagangan hari itu antara lain BUMI yang naik 4,76%, serta IMPC dan AADI yang masing-masing menguat 4%. Sebaliknya, SMMA terkoreksi 5,82%, BBCA turun 1,12%, dan BBRI melemah 0,59%.