JAKARTA, KILASKINI.COM — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara merancang restrukturisasi portofolio bisnis BUMN Karya di Jakarta guna membenahi beban utang yang menumpuk di tingkat induk maupun anak usaha. Langkah konsolidasi tiga klaster konstruksi ini ditargetkan rampung pada akhir 2026 mendatang.
Kondisi neraca keuangan BUMN Karya menuntut penanganan mendesak. Tumpukan utang di sejumlah kontraktor pelat merah kian memberatkan operasional. Persoalan ini tidak berhenti di entitas induk semata.
COO BPI Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menuturkan persoalan utang sudah menjalar ke unit bisnis terbawah. "Utangnya besar-besar, masalahnya ini tidak hanya di level holding, tetapi dia punya anak-anak perusahaan juga bermasalah," kata Dony.
Krisis utang tersebut memicu pemangkasan portofolio secara menyeluruh. Pengawasan holding diperketat agar efisiensi belanja modal tercapai.
Konsolidasi Menjadi Tiga Klaster Bisnis
BPI Danantara merespons krisis tersebut lewat perampingan model bisnis. Seluruh perusahaan konstruksi pelat merah diarahkan masuk ke tiga klaster spesifik. Spesialisasi kerja dipertegas guna menghindari tumpang-tindih garapan proyek.
Tiga klaster tersebut mencakup infrastruktur, konstruksi bangunan atau building construction, serta EPC. Klaster EPC secara khusus menangani bidang rekayasa, pengadaan, dan konstruksi. Konsolidasi ini melibatkan kontraktor besar seperti Waskita Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, dan PTPP.
Target penataan portofolio terpasang ketat. BPI Danantara mematok seluruh restrukturisasi klaster ini tuntas pada akhir 2026. Skema baru diharapkan mengikis beban biaya overhead perusahaan.
Peluang Akuisisi Aset Tol oleh Jasa Marga
Penyusutan portofolio membuka pintu divestasi aset konsesi jalan tol. Beban utang BUMN Karya dipangkas melalui pelepasan ruas-ruas tol yang telah beroperasi. Jalur divestasi ini menjadi jalan keluar bagi pemulihan likuiditas kontraktor yang bermasalah.
Peluang pelepasan aset tersebut ditangkap oleh PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Emiten jalan tol milik negara ini membuka peluang berinvestasi dan mengakuisisi ruas tol milik BUMN Karya. Akuisisi antar-BUMN dipandang menjaga kesinambungan operasi infrastruktur jalan nasional.
Strategi Jasa Marga tetap mengedepankan kehati-hatian. Emiten berkode saham JSMR ini condong mengambil porsi kepemilikan minoritas pada proyek tol baru. Manajemen menghindari penambahan beban keuangan yang berisiko menekan likuiditas perusahaan.
Fokus Geografis Pulau Jawa dan Kelayakan Finansial
Jasa Marga menetapkan pagar seleksi yang ketat bagi ruas yang dilepas BUMN Karya. Ruas yang dibidik harus memiliki proyeksi trafik yang menguntungkan. Integrasi operasional diprioritaskan pada jalur yang tersambung langsung dengan jaringan tol eksisting milik perseroan.
Secara geografis, fokus Jasa Marga terkonsentrasi di Pulau Jawa. Volume kendaraan di koridor Jawa terbukti paling stabil menopang pendapatan tol. Skema jaringan yang menyatu memudahkan efisiensi pemeliharaan jalan serta pengelolaan transaksi harian.
Studi kelayakan komprehensif menjadi dasar final sebelum akuisisi disepakati. Keputusan transaksi ditakar dari dampak langsungnya terhadap kapasitas finansial perseroan. Pertimbangan rasio utang menjadi penentu utama agar neraca Jasa Marga tetap sehat.
Poin Penting
| Yang berminat akuisisi | PT Jasa Marga Tbk (JSMR) |
| Target | Ruas tol milik BUMN Karya (a.l. Waskita Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, PTPP) |
| Fokus geografis | Pulau Jawa |
| Skema | Investasi porsi minoritas di ruas tol baru/existing yang terkoneksi jaringan JSMR |
| Restrukturisasi BUMN Karya | 3 klaster: infrastruktur, konstruksi bangunan, EPC — target rampung akhir 2026 |
Dony Oskaria, COO BPI Danantara/Kepala BP BUMN: “Utangnya besar-besar, masalahnya ini tidak hanya di level holding, tetapi dia punya anak-anak perusahaan juga bermasalah.”