KILASKINI.COM — Diet keto yang membatasi karbohidrat secara total sering dianggap jalan pintas menurunkan berat badan setelah melahirkan. Padahal dokter gizi dan psikiater mengingatkan pola makan ekstrem ini sulit bertahan lama dan bisa memicu kecemasan berlebih terhadap makanan. Simak penjelasan lengkapnya.
Diet keto menjadi salah satu metode yang paling sering dilirik ibu muda yang ingin berat badannya kembali setelah melahirkan. Pola makan ini menghindari karbohidrat hampir sepenuhnya dan mengandalkan asupan lemak tinggi. Di balik popularitasnya, dokter mengingatkan ada tantangan biologis dan psikologis yang menyertainya.
Dokter spesialis gizi klinik, dr Christopher Andrian, M.Gizi, SpGK, menilai pembatasan jenis makanan secara ekstrem dalam jangka panjang sangat sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika satu kelompok makanan dihindari total, efisiensi penyerapan vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E, dan K ikut terganggu.
Dampaknya bisa terasa pada kekebalan tubuh hingga kesehatan tulang. Apalagi ibu muda biasanya sedang aktif menyusui atau mengurus anak, sehingga kebutuhan gizinya tidak bisa ditekan sembarangan.
Mengapa Diet Keto Sulit Dijalani Jangka Panjang
Menurut dr Christopher, ada tiga alasan utama pola makan tinggi lemak tanpa karbohidrat ini tidak realistis untuk dijalani seumur hidup. Pertama, tidak banyak orang yang sanggup makan lemak terus-menerus setiap hari.
Kedua, komponen makanan pendukungnya juga tidak mudah didapatkan. Ketiga, hasilnya tidak bertahan lama karena tubuh tetap memerlukan karbohidrat dan lemak dalam porsi seimbang.
"Karena kalau misalnya kita cuman makan makanan tertentu doang contohnya kayak keto diet, makan cuman lemak doang yang tinggi karbohidrat kita limit sama sekali, dalam jangka panjang itu agak sulit," jelas dr Christopher saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
"Siapa sih bisa terapin makan lemak terus panjang hari, sepanjang hidup kita? Itu satu. Kedua, komponen makanan itu juga sulit kita bisa dapatkan. Ketiga, dan itu nggak long lasting, kenapa? Karena kita tetep memerlukan yang namanya karbohidrat, kita tetep memerlukan yang namanya lemak," imbuhnya.
Beban Mental di Balik Pembatasan Makan yang Kaku
Masalah tidak berhenti di metabolisme tubuh. Pembatasan makanan yang terlampau kaku juga memicu tekanan psikologis bagi yang menjalaninya. Rasa cemas berlebih terhadap jenis makanan tertentu kerap beririsan dengan gangguan perilaku makan.
Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Putri Nugraheni, SpKJ, menyoroti pola restriksi makanan yang tidak diiringi pendekatan psikologis sehat. Menurutnya, pola ini sering berakar dari tekanan emosional atau trauma masa lalu.
Penanganan berat badan ideal, kata dr Putri, tidak boleh hanya berfokus pada pelarangan makanan. Keseimbangan emosi dan dukungan profesional perlu dilibatkan secara holistik.
"Biasanya tipe gangguan stres dan cemas yang mengakibatkan orangnya takut makan, jadi sangat merestriksi makanan. Nasi takut, ayam takut, buah-buahan takut, sayur-sayuran takut, jadi banyak sekali yang hanya makan misalnya putih telur saja, dua butir sehari," ungkap dr Putri.
Tanda Ibu Perlu Berkonsultasi ke Tenaga Kesehatan
Beberapa sinyal berikut sebaiknya tidak diabaikan saat menjalani diet apa pun, termasuk keto. Rasa cemas berlebihan setiap kali melihat makanan tertentu, misalnya nasi atau buah, adalah tanda awal restriksi makan yang tidak sehat.
Keluhan fisik seperti mudah lelah, rambut rontok, atau daya tahan tubuh menurun juga perlu diwaspadai. Begitu pula jika muncul kebiasaan makan sangat sedikit, misalnya hanya putih telur dua butir sehari, seperti yang digambarkan dr Putri.
Konsultasi dengan dokter gizi dan psikolog atau psikiater bisa membantu menyusun pola makan yang realistis. Pendekatan ini lebih aman dibanding memaksakan diet ekstrem yang sulit dipertahankan.
Menurunkan Berat Badan Tanpa Menekan Tubuh dan Pikiran
Menurunkan berat badan setelah melahirkan memang butuh strategi, tapi bukan berarti tubuh harus dipaksa ekstrem. Prinsip keseimbangan nutrisi tetap jadi pegangan utama, dengan porsi karbohidrat, lemak, dan protein yang wajar.
Ibu muda yang sedang menyusui pun perlu asupan kalori cukup agar produksi ASI tidak terganggu. Jika ingin mencoba pola makan tertentu, diskusikan dulu dengan tenaga kesehatan agar risiko kekurangan nutrisi dan tekanan mental bisa dihindari sejak awal.