KILASKINI.COM — Harga sepeda motor listrik di Indonesia kini berada di rentang Rp20 juta hingga Rp25 juta, menyentuh level yang selama ini ditempati motor bensin. Namun harga yang semakin dekat belum diikuti pola pembelian yang sama, karena akses kredit masih jadi penghambat utama. Pembiayaan motor listrik lewat multifinance tercatat tumbuh 34,7 persen secara tahunan menjadi Rp24,60 triliun hingga Juni 2026.
Founder dan CEO Mimo Mobility, Triharsa Adicahya, menilai konsumen Indonesia sebenarnya mampu membeli sepeda motor di harga tersebut. Menurut dia, persoalannya bukan lagi soal menurunkan harga lewat subsidi, melainkan menyediakan skema pembiayaan yang cocok dengan kebiasaan konsumen.
"Untuk sepeda motor itu sudah tidak perlu subsidi sebetulnya. Orang Indonesia beli Rp25 juta itu bisa, punya kemampuan. Yang dibutuhkan pemerintah adalah financing," kata Triharsa saat ditemui di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Bank dan Multifinance Sudah Buka Pembiayaan Motor Listrik
Sejumlah lembaga keuangan mulai menyediakan pembiayaan khusus kendaraan listrik. BRI pada Agustus 2026 menawarkan pembiayaan motor listrik dengan bunga mulai 1 persen flat per bulan, DP mulai 0 persen, dan tenor hingga lima tahun. Program itu tersedia untuk konsumen perorangan maupun perusahaan.
Mandiri Utama Finance (MUF) juga punya program serupa dengan DP mulai 10 persen. Dalam salah satu skemanya, angsuran motor listrik ditawarkan mulai Rp500 ribuan, meski berlaku untuk periode dan wilayah tertentu.
Artinya, akses pembiayaan sebenarnya sudah ada. Yang belum terbentuk adalah ekosistem dengan kedalaman dan tingkat penerimaan risiko setara pembiayaan motor bensin.
Pembiayaan Multifinance Tumbuh 34,7 Persen
Laporan RMI mengenai pembiayaan kendaraan roda dua listrik di Indonesia mencatat pembiayaan kendaraan listrik melalui industri multifinance tumbuh 34,7 persen secara tahunan menjadi Rp24,60 triliun hingga Juni 2026. Meski begitu, penetrasi motor listrik belum sepenuhnya matang karena sejumlah risiko.
Risiko tersebut berkaitan dengan teknologi dan produk, nilai jual kembali kendaraan, serta kepastian permintaan dan kebijakan. RMI juga mencatat keterlibatan bank komersial dalam pembiayaan motor listrik masih terbatas, dan pembiayaan terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan multifinance.
Motor Bensin Sudah Punya Ekosistem Kredit Lebih Lama
Pasar sepeda motor Indonesia sangat bergantung pada pembelian secara kredit. Konsumen tidak hanya melihat harga kendaraan, tetapi juga uang muka, besaran angsuran, tenor, dan kemudahan memperoleh pembiayaan.
Kondisi itu membuat motor listrik seharga Rp20 juta-Rp25 juta belum tentu terasa sama murah bagi konsumen jika akses kreditnya berbeda dengan motor bensin yang ekosistem pembiayaannya sudah terbangun jauh lebih lama.
Triharsa melihat persoalan ini sebagai bagian penting dalam transisi dari kendaraan berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik. Menurut dia, pemerintah tidak harus terus menjadikan subsidi pembelian sebagai instrumen utama untuk mendorong pasar.
"We will not begging for subsidy. We will not. Tapi kalau ada, bagus," ujarnya.
Motor Listrik Dipakai untuk Bekerja, Bukan Sekadar Barang Konsumsi
Bagi Triharsa, sepeda motor di Indonesia tidak semata-mata menjadi barang konsumsi. Kendaraan ini dipakai sebagai alat untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan, mulai dari mobilitas pekerja hingga pengantaran barang.
Karena itu, kemampuan konsumen membayar cicilan masuk ke dalam perhitungan ekonomi yang lebih luas. Motor listrik perlu ditawarkan dengan biaya yang realistis bagi pengguna, bukan hanya dengan harga pembelian yang lebih rendah.
Industri keuangan pun memperhitungkan risiko kendaraan listrik secara berbeda. Teknologi yang masih relatif baru, perkembangan baterai, serta belum terbentuknya pasar kendaraan listrik bekas secara luas menjadi faktor yang diperhitungkan lembaga pembiayaan. RMI memasukkan nilai jual kembali dan perkembangan teknologi sebagai salah satu risiko dalam pembiayaan motor listrik.
Harga Bukan Lagi Satu-satunya Pertanyaan
Ketika harga motor listrik mulai berada di rentang yang biasa dijangkau konsumen motor bensin, pembahasan pasar bergeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah kendaraannya mahal atau murah, melainkan apakah konsumen bisa mendapat uang muka, tenor, dan cicilan yang kompetitif serta semudah saat membeli motor bensin.
Bagi industri motor listrik, pembiayaan menjadi mata rantai yang menentukan apakah kendaraan listrik bisa bergerak dari pasar khusus menuju pasar massal. Jika harga sudah semakin dekat tetapi akses pembiayaan belum mengikuti pola pembelian motor bensin, pekerjaan rumah industri bukan lagi sekadar menekan harga, melainkan membangun ekosistem kredit yang membuat motor listrik benar-benar terjangkau.