Pencarian

BMI Proyeksi BI Rate Naik ke 6,5% pada 2027, Rupiah di Rp 18.050 per Dolar

Jumat, 23 Oktober 2026 • 08:20:31 WIB
BMI Proyeksi BI Rate Naik ke 6,5% pada 2027, Rupiah di Rp 18.050 per Dolar
Pelemahan rupiah ke Rp 18.050 per dolar AS mendorong proyeksi kenaikan suku bunga acuan.

KILASKINI.COM — Lembaga riset BMI memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia naik menjadi 6% pada akhir 2026 dan 6,5% pada 2027. Proyeksi itu muncul setelah rupiah melemah lebih dari 8% sepanjang 2026 ke level Rp 18.050 per dolar Amerika Serikat. Tekanan kurs dan inflasi dinilai membuat pengetatan moneter sulit dihindari meski BI ingin menjaga pertumbuhan.

Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan Macro Insight BMI, bagian dari Fitch Solutions, bertanggal 22 Oktober 2026. Lembaga riset ini menilai intervensi valuta asing tidak lagi cukup untuk menahan pelemahan rupiah. Kenaikan suku bunga berpotensi diperlukan bila tekanan terhadap mata uang berlanjut.

Pada 21 Oktober 2026, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Namun, bank sentral menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5% dan memperluas insentif transaksi lindung nilai atau hedging. Langkah itu dibaca sebagai sinyal bahwa BI mulai merespons tekanan kurs, meski belum lewat jalur suku bunga utama.

Rupiah Melemah 8% dan Daya Tahan Devisa Menipis

BMI mencatat rupiah berada di Rp 18.050 per dolar AS, melemah lebih dari 8% dibandingkan awal 2026. Di sisi lain, kemampuan cadangan devisa membiayai impor turun dari 7,2 bulan pada awal 2025 menjadi 5,3 bulan pada September 2026.

Penurunan rasio kecukupan impor itu memperkecil ruang BI untuk terus menggelontorkan devisa guna menstabilkan kurs. Makin lama intervensi berjalan, makin besar pula beban yang harus ditanggung cadangan devisa.

Tekanan dari The Fed hingga Risiko El Nino

Sumber tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri. BMI memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve, menaikkan suku bunga menjadi 4,5% pada akhir 2026. Selisih imbal hasil antara aset dolar AS dan rupiah pun berpotensi melebar.

Faktor lain yang masuk hitungan adalah konflik AS-Iran dan fenomena Super El Nino. Keduanya berisiko mendorong harga energi dan pangan lebih tinggi. BMI memproyeksikan inflasi Indonesia rata-rata 3,4% pada 2026 dan 3,5% pada 2027.

Kenaikan harga pangan dan energi tersebut menambah tekanan inflasi sekaligus memperkuat alasan pengetatan kebijakan moneter. Inflasi yang menanjak akan makin menyulitkan BI menjaga daya beli sekaligus stabilitas kurs secara bersamaan.

Bayang-bayang Downgrade MSCI

Satu risiko lain yang disorot BMI adalah ketidakpastian klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Jika Indonesia diturunkan dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dana yang mengikuti indeks pasar negara berkembang berpotensi melepas saham Indonesia.

Aliran dana keluar itu akan menambah tekanan terhadap rupiah. Bagi investor, kombinasi suku bunga naik dan risiko downgrade membuat imbal hasil aset Indonesia perlu dikalkulasi ulang, terutama untuk obligasi tenor panjang dan saham berkapitalisasi besar.

Apa Artinya bagi Pelaku Pasar

Jalur suku bunga 5,75% ke 6,5% dalam proyeksi BMI menyiratkan biaya dana akan naik dua kali dalam dua tahun. Emiten dengan utang berbunga mengambang dan beban dolar AS menjadi kelompok paling rentan.

Sebaliknya, bank dan emiten dengan kas besar berpotensi menikmati spread bunga yang lebih lebar. Bagi pemegang obligasi, kenaikan yield akibat pengetatan moneter akan menekan harga surat utang, terutama yang bertenor panjang.

BMI sendiri menempatkan proyeksi ini sebagai skenario yang bergantung pada seberapa keras tekanan kurs berlanjut. Bila rupiah stabil dan inflasi terkendali, ruang BI menahan suku bunga di level sekarang masih terbuka.

Sumber: finance.detik.com

Follow kilaskini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks