KILASKINI.COM — Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,07% ke Rp4.260 per saham pada perdagangan Senin (21/9/2026), pelemahan harian terbesar di antara empat bank besar Bursa Efek Indonesia. Tekanan datang setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% dengan proyeksi hawkish, disertai eskalasi ketegangan di Selat Hormuz. Investor perbankan perlu mencermati bahwa koreksi satu sesi belum mencerminkan tren jangka panjang emiten.
Pelemahan BMRI terjadi bersamaan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup turun 0,33% ke level 6.441,16 pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Indeks sempat dibuka menguat di posisi 6.512,57 sebelum berbalik arah. Saham perbankan tercatat sebagai salah satu pemberat utama indeks hari itu, bersama saham PT Amman Mineral Internasional (AMMN).
Data harga mengacu pada TradingView per Jumat, 18 September 2026, sekitar pukul 16.55 WIB. Adapun data volume, rentang harian, rentang 52 minggu, dan kapitalisasi pasar bersumber dari Investing.com dan Ajaib pada periode yang sama. Data tersebut bukan data real-time, sehingga harga penutupan dapat berbeda dari harga terkini di bursa.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Proyeksi Hawkish Tekan Aset Berisiko
Bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan itu disertai proyeksi kebijakan yang cenderung hawkish untuk sisa tahun 2026, sehingga menekan selera investor terhadap aset berisiko di pasar berkembang, termasuk saham perbankan Indonesia.
Sentimen pasar bertambah berat oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dari Asia, ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) sebesar 25 basis poin ke level 1,25% turut memperkuat tekanan. Kombinasi ini memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi, dua variabel yang menjadi perhatian investor di pasar saham domestik.
464 Saham Melemah, Transaksi Sentuh Rp19,06 Triliun
Sepanjang sesi perdagangan tersebut, tekanan jual mendominasi bursa domestik. Berikut rincian statistik perdagangan hari itu:
- 464 saham melemah, 212 saham menguat, dan 287 saham stagnan
- Total volume transaksi mencapai 30,38 miliar lembar saham
- Nilai transaksi tercatat Rp19,06 triliun
- IHSG ditutup di 6.441,16, turun 0,33% dari posisi pembukaan 6.512,57
Di antara empat bank besar Bursa Efek Indonesia, BMRI mencatatkan persentase pelemahan harian terbesar pada 18 September 2026 dibandingkan BBCA, BBRI, dan BBNI yang juga melemah pada sesi yang sama.
Mengapa BMRI Paling Tertekan di Antara Bank Besar
Bobot BMRI yang besar dalam indeks membuat pergerakannya berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Ketika sentimen global memburuk, saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid biasanya menjadi sasaran pertama aksi jual investor asing maupun institusi domestik yang mengurangi eksposur.
Tekanan pada nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi memperkuat kalkulasi itu. Ketika yield obligasi naik, sebagian investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil lebih menarik relatif terhadap risiko saham.
Yang Perlu Dicermati Investor
Pergerakan dalam satu sesi perdagangan belum tentu mencerminkan tren jangka panjang suatu saham dan tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk menilai kondisi fundamental emiten. Investor yang memantau BMRI sebaiknya memperhatikan beberapa variabel lanjutan, mulai dari arah kebijakan The Fed pada rapat berikutnya, perkembangan di Selat Hormuz, hingga keputusan Bank of Japan yang dapat mengubah aliran modal global.
Dari sisi domestik, pergerakan nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah akan menjadi indikator awal apakah tekanan terhadap saham perbankan berlanjut atau mereda. Emiten perbankan lain seperti BBCA, BBRI, dan BBNI juga layak dipantau sebagai pembanding, mengingat keempatnya bergerak dalam pola yang sama pada sesi tersebut.