KILASKINI.COM — Kunjungan wisatawan mancanegara ke Thailand diproyeksikan turun 4,5% menjadi 31,5 juta orang pada 2026, menurut University of the Thai Chamber of Commerce (UTCC). Angka itu lebih rendah dari proyeksi awal 32-34 juta kunjungan sekaligus di bawah realisasi 2025 yang hampir menyentuh 33 juta. Persaingan dengan Vietnam, China, dan Jepang disebut jadi penyebab utama di samping gejolak geopolitik dan kenaikan biaya perjalanan.
Realisasi 2025 sendiri hampir menyentuh 33 juta kunjungan. Artinya, Negeri Gajah Putih menghadapi tekanan ganda: pasar yang menyusut dan daya saing yang tergerus.
Persaingan dengan Vietnam hingga Jepang
Presiden UTCC Thanavath Phonvichai menyebut Thailand tengah memasuki periode sulit untuk bersaing dengan negara-negara Asia. Vietnam semakin menarik wisatawan lewat harga kompetitif dan beragam atraksi baru, sementara China dan Jepang terus memperkuat daya tarik destinasi mereka.
"Kondisi itu tidak bisa semata-mata disalahkan pada situasi global. Thailand juga perlu membenahi daya saing pariwisatanya," kata Thanavath, dikutip dari The Nation.
Survei UTCC terhadap 368 pelaku usaha pariwisata menangkap keluhan yang sama. Sebanyak 48,1% responden menunjuk faktor eksternal seperti perang, ketegangan di Timur Tengah, dan kondisi ekonomi global. Sebanyak 25,3% menyoroti persoalan domestik: berkurangnya penerbangan, ketidakpastian kebijakan visa, masalah perbatasan, hingga keamanan. Sisanya, 21,7%, menilai wisatawan mulai beralih ke destinasi pesaing.
Data Januari-September 2026: Turun 916 Ribu Kunjungan
Direktur Institut Strategi Perdagangan UTCC, Wichian Kaewsombat, mencatat Thailand menerima 23,20 juta wisman selama Januari-September 2026. Jumlah itu turun 3,8% atau sekitar 916 ribu kunjungan dibanding periode yang sama tahun lalu.
September 2026 jadi bulan terberat dengan penurunan 10,5%. Dari lima pasar utama, hanya China yang tumbuh 15,2% menjadi 3,94 juta kunjungan. Sebaliknya, kunjungan wisatawan Korea Selatan anjlok 25,4%, Malaysia turun 15,2%, India 2,5%, dan Rusia 0,1%.
Apa yang Diminta Pelaku Usaha
Sebanyak 42% pelaku usaha yang disurvei meminta pemerintah menambah penerbangan langsung dan memperbaiki proses pemeriksaan di perbatasan. China masih dipandang sebagai pasar potensial terbesar dengan dukungan 43% responden, disusul ASEAN dan Asia Selatan 26%, lalu Eropa 16%.
Bagi traveler Indonesia yang merencanakan liburan ke Thailand, tekanan ini bisa berarti dua hal. Di satu sisi, persaingan harga tiket dan paket wisata berpotensi lebih kompetitif. Di sisi lain, berkurangnya frekuensi penerbangan dan ketidakpastian kebijakan visa perlu dicek ulang sebelum berangkat.
Proyeksi Pemulihan 2027
UTCC memperkirakan pariwisata Thailand mulai pulih pada 2027 dengan target 34 juta kunjungan atau naik 7,9%. Pendapatan dari wisman diproyeksikan 1,63 triliun baht atau sekitar Rp 878 triliun.
Angka itu masih punya beberapa kemungkinan. Dalam skenario terburuk, kunjungan hanya mencapai 32,57 juta orang. Skenario terbaik bisa menembus 35,44 juta kunjungan. Harga energi tinggi akibat konflik Timur Tengah masih menjadi ancaman bagi pemulihan sektor ini.
Thanavath menegaskan pariwisata tetap jadi salah satu penggerak utama ekonomi Thailand pada 2026 dan 2027, meski pemulihannya belum sesuai target awal. UTCC memperkirakan ekonomi Thailand tumbuh 2,2-2,5% pada 2026, ditopang investasi di sektor elektronik, kecerdasan buatan, pusat data, ekspor, serta kebijakan pemerintah.
Untuk wisatawan yang ingin ke Thailand tahun depan, pantau terus pembaruan kebijakan visa dan jadwal penerbangan langsung dari Indonesia. Informasi terkini bisa dikonfirmasi lewat otoritas pariwisata Thailand atau maskapai masing-masing.