KILASKINI.COM — Sekitar 22.000 perempuan Indonesia meninggal setiap tahun akibat kanker serviks yang dipicu infeksi HPV. Kemenkes kini memperluas vaksinasi HPV gratis ke anak laki-laki usia 10-11 tahun di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali, dengan cakupan awal menembus 88 persen. Berikut panduan lengkap jadwal, manfaat, dan keamanannya untuk ibu.
Kanker leher rahim masih menjadi ancaman nyata bagi perempuan Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 22.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat kanker serviks yang dipicu infeksi Human Papillomavirus (HPV).
Untuk memutus rantai penularan, Kemenkes memperluas cakupan imunisasi HPV gratis bagi anak laki-laki usia 10-11 tahun atau kelas 5 SD. Perluasan ini menyusul program imunisasi anak perempuan yang sudah berjalan nasional sejak 2023.
Siapa yang Mendapat Vaksin HPV Gratis?
Kemenkes menyediakan imunisasi HPV gratis bagi anak usia 10-11 tahun, setara kelas 5 SD. Program untuk anak perempuan sudah berjalan di seluruh Indonesia sejak 2023.
Mulai tahun ini, cakupan vaksinasi diperluas ke anak laki-laki di tiga provinsi: DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali. Cakupan imunisasi anak laki-laki di wilayah perluasan itu sudah menembus 88 persen.
Sementara cakupan imunisasi HPV dosis tunggal pada anak perempuan kelas 5 SD mencapai 83,5 persen, setelah sebelumnya menyentuh 90,8 persen pada 2025.
Mengapa Usia 10-11 Tahun Jadi Waktu Terbaik?
Direktur Imunisasi Kemenkes, dr Indri Yogyaswari, MARS, menjelaskan bahwa respons imunitas anak usia sekolah dasar jauh lebih optimal dibanding usia dewasa.
"Pemberian vaksin HPV pada anak usia 9 sampai 14 tahun dengan satu dosis mampu memberikan perlindungan hingga 88-90 persen. Namun jika baru diberikan di atas usia 20 tahun meskipun dengan dua dosis, efektivitas perlindungannya turun menjadi sekitar 60 persen. Semakin awal diberikan, efektivitas dan tingkat perlindungannya jauh lebih tinggi," terang dr Indri dikutip dari laman Kemenkes, Senin (2/11/2026).
Artinya, satu dosis di usia sekolah memberi perlindungan lebih tinggi dibanding dua dosis di usia dewasa. Anak laki-laki ikut divaksin karena mereka juga bisa menjadi pembawa virus tanpa menunjukkan gejala.
Apakah Vaksin HPV Aman untuk Anak?
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Prof dr Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan vaksin HPV yang dipakai dalam program pemerintah sudah melewati uji klinis ketat.
"Reaksi pasca-imunisasi bersifat wajar dan umumnya ringan, seperti nyeri local atau pusing yang dapat sembuh dengan sendirinya. Keamanan dan efektivitas vaksin ini sudah teruji," tegas Prof Hinky.
Keluhan seperti nyeri di lokasi suntikan atau pusing usai vaksinasi bukan tanda bahaya. Reaksi itu umumnya hilang sendiri dalam hitungan jam hingga satu hari.
Skrining Kanker Serviks untuk Ibu Usia 30 Tahun
Selain imunisasi anak, Kemenkes mengintegrasikan skrining kanker serviks bagi perempuan dewasa usia 30 tahun melalui skema Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Langkah ini penting karena vaksinasi anak dan skrining ibu bekerja dari dua sisi. Anak terlindungi sejak dini, sementara ibu mendapat deteksi dini sebelum gejala muncul.
Yang Perlu Ibu Perhatikan Sebelum Vaksinasi Anak
Pastikan anak dalam kondisi sehat saat jadwal imunisasi di sekolah. Jika anak sedang demam atau sakit, tanyakan ke petugas kesehatan apakah jadwal perlu digeser.
Setelah vaksinasi, pantau anak selama sehari. Nyeri ringan di lengan atau rasa pusing bisa diredakan dengan istirahat cukup dan banyak minum air putih.
Jika muncul keluhan berat seperti demam tinggi yang tak turun, bengkak luas, atau sesak napas, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Laporkan juga ke petugas imunisasi setempat.
Perluasan vaksin HPV ke anak laki-laki adalah kabar baik bagi keluarga. Satu dosis di usia sekolah memberi perlindungan hingga 88-90 persen, jauh lebih tinggi dibanding vaksinasi di usia dewasa. Cek jadwal imunisasi di sekolah anak dan pastikan ia tidak melewatkannya.